Kamis, 26 Januari 2017

Ternyata kalian, sahabat surgaku


Sahabat, begitulah orang menyapanya. Sebuah kata yang menggambarkan tentang seseorang yang selalu ada bersama-sama, tidak kenal kata lupa, dan tidak kenal kata menyakiti. Meski terkadang sahabat adalah orang yang sering membuatmu jengkel, kesal, atau apapun itu, namun bukan berarti ia tidak peduli denganmu. Ia adalah orang yang kedua setelah keluargamu yang akan merasakan sakit, ketika kau merasa sakit. Ia juga orang yang akan selalu menemanimu, ketika tak ada lagi orang bersamamu. Ya, itulah sahabatmu. Sahabat, mungkin ia akan selalu bertingkah konyol bahkan ia tak jarang akan membuatmu kesal. Tetapi percayalah, ia akan selalu bersamamu, kapanpun kamu membutuhkannya.

Definisi sahabat, memang cukup rumit. Karena ada definisi lain pula yang hampir sekali mirip dengan kata sahabat, yaitu teman. Sebenarnya, apa sih perbedaan kata teman dan sahabat? Lalu, selama ini yang kita kenal itu teman atau sahabat kita? Jadi, pada dasarnya teman dan sahabat itu adalah orang yang sama-sama kita temui selama ini. Hanya saja, sahabat akan selalu ada bersama kita sampai kapanpun. Meskipun sudah berpisah sekian lama pun, ia akan tetap ada bersama kita.

Dalam hidup, kita pun pasti memiliki banyak orang yang biasa kita sebut sebagai teman. Dari mulai kita kecil, hingga masuk ke sekolah formal yang dimulai dari TK, SD, SMP, hingga SMA tentulah kita memiliki lebih dari satu orang teman. Namun dari semua yang kita temui, tidak semua dapat kita sebut sebagai sahabat. Hanya ada beberapa orang, sedikitnya hanya satu orang yang dapat kita sebut sebagai sahabat.

Bagiku, sahabat adalah segalanya. Segalanya yang terpenting, setelah kepentingan keluargaku. Bahkan ia telah kuanggap sebagai keluargaku. Sebelumnya, aku tak pernah tahu seperti apa sahabat yang sesungguhnya. Hingga akhirnya, aku menemukan sendiri makna dari sebuah kata sahabat ketika aku mulai mencapai usia awal dewasaku.


Semua berawal ketika aku mulai menduduki kursi di sebuah Perguruan Tinggi. Saat itu, di tahun 2015. Aku mungkin seorang perempuan yang masih teramat polos saat itu. Aku tidak mengetahui apa-apa tentang kehidupan di kampus, namun aku adalah wanita yang bisa dibilang haus akan ilmu-ilmu baru yang belum ku ketahui. Semenjak aku dinyatakan lulus dari ujian penmaba, aku selalu mengikuti alur penerimaan mahasiswa baru hingga tiba saatnya masuk ke masa perkuliahan yang sesungguhnya.

Alur tersebut dimulai dari masa verifikasi UKT. Aku bersama orangtua ku pergi ke kampus untuk melaksanakan verifikasi dan pemberkasan. Saat tiba disana, aku melihat sebuah banner bertuliskan “selamat datang di kampus tarbiyah dan qurani”. Bersamaan dengan melihat banner itu, tidak sengaja aku pun melihat ada seorang kakak tingkat perempuan berhijab syar’i dengan menggunakan rok dan baju yang lebar. Dengan polosnya, aku berbicara kepada ibuku, “mama, liat deh banner nya. Berarti disini aku bareng sama jurusan agama islam kali ya. Trus itu tuh kakak itu. Itu kakak jurusan agama islam kali ya”. Mendengar ucapanku, ibuku hanya mengiyakan.

Semenjak itu, sedikit banyak aku mulai mengenal kampusku. Hingga tiba alur selanjutnya yakni Masa Pengenalan Akademik atau biasa disingkat MPA. Ketika itu, aku menjalaninya selama 4 hari. Disini, aku cukup banyak berkenalan dengan teman-teman baruku.  Dan selama MPA berlangsung, aku mulai berinteraksi langsung dengan kakak-kakak di jurusan maupun di fakultasku. Saat itu, aku pun sempat terkejut. Sebab perempuan yang kala itu kutemui saat ku verifikasi, ternyata ia adalah kakak fakultasku, bukan kakak dari jurusan agama islam. Tidak hanya ia, namun hampir seluruh kakak-kakak tingkat yang perempuan di fakultasku, memang berpakaian syar’i. Antara terkejut, ingin tertawa, dan malu ketika aku mengetahui hal tersebut. Sebab kepolosanku itu. Namun dari situlah, aku baru mengetahui bahwa fakultasku merupakan salah satu fakultas yang dikenal dengan religius nya.

Hingga masuk ke perkuliahan, aku mulai banyak berkenalan lagi dengan teman-teman baruku. Dan entah mengapa, semenjak itu aku justru lebih dekat dengan teman-teman baruku yang berhijab syar’i nan kalem sifatnya. Sangat jauh berbeda dengan diriku. Namun sepertinya Allah memang sudah menyiapkan skenario terbaik-Nya untukku. Lama kelamaan, aku mulai merasa agak sedikit jengah dengan cara berpakaianku. Sebab aku bergaul dengan teman-temanku yang berpakaian syar’i, sedangkan aku sendiri masih mengenakan celana jeansku dan hijab yang tidak terlalu panjang. Dan perlahan-lahan, aku yang dahulu terlihat seperti anak perempuan yang tidak feminim alias tomboy menggunakan celana jeans, kini mulai membiasakan diri berpakaian dengan rok. Aku merasa risih sebenarnya, karena aku adalah anak yang tidak bisa diam alias pecicilan :’) tetapi aku masih terus mencoba membiasakan diri dengan rok ini.

Saat itu, aku mengenakan kembali celana jeansku. Lalu, tiba-tiba temanku menghampiriku.. “nad, kok kamu tumben ga pake rok lagi.. kenapa?” saat itu, aku diam. Hanya memberikan sedikit senyum simpul di wajahku. Aku bingung mau jawab apa, karena aku sebenarnya agak malu sih. Akhirnya aku jawab, “eum.. rok aku dicuci, zah. Aku kan cuma punya rok satu doang, selain itu rok sekolah hehe.” Setelah itu, Fildzah memberikan senyumnya padaku, dan membalas ucapanku, “ohh gitu hehe. Padahal kamu lebih cantik kalo pake rok loh.” Dan saat itu aku hanya kembali tersenyum.

Aku terus berpikir, “nyaman gak sih aku sama keadaan yang sekarang?”

“kok aku jadi ngikutin mereka?”

“aku jadi gak bebas deh rasanya.”

“aku kan berpakaian se-nyaman aku.”

“Kalo pake celana emangnya kenapa, kan tertutup juga.”

“Mamaku juga ga masalah aku pake pakaian gini.”

Kok gini… kok gitu… banyakkk banget yang aku pikirin. Banyak banget yang masih kurasa aneh.

            Tidak hanya cara berpakaian, namun juga kultur dari tempat yang kusinggahi sekarang. Aku merasa seperti orang awam sekali. Aku tidak tahu apa-apa. Istilah mentoring, syuro, jaulah, kajian, jarang sekali kudengar di telingaku. Hingga akhirnya aku mengetahui sendiri apa maksud dari istilah-istilah tersebut ketika aku mulai mengikuti mentoring atau liqo, bersama teman-teman dekatku. Lama kelamaan, sedikit banyak aku mulai terbiasa dengan budaya-budaya ini. Hanya saja, aku masih belum terbiasa dengan cara berpakaiannya.

            Kala itu, aku mendapat sebuah jarkoman di grup kelasku. Jarkoman tentang sebuah kajian islam di fakultasku. Lalu saat itu, teman-temanku mengajak aku untuk ikut ke agenda itu. Dan pada akhirnya, kita menghadirinya.

            Lagi-lagi, sesampainya disana aku merasa terheran-heran dan bingung :’D. aku bingung, ketika aku masuk ke agenda tersebut, ada sebuah kain yang diletakkan di tengah-tengah tempat tersebut untuk menutupi antara laki-laki dan perempuan. Dan dengan polosnya, aku bertanya pada temanku…

“hana, ini buat apaan sih? Kok kajian aja pake tutupan kayak gini segala ya. Dulu mah aku ga pernah begini dah perasaan.”

Lalu dia hanya tertawa kecil, sambil menjawab pertanyaanku, “ini hijab nad. Emang kalo disini budayanya gini kayaknya deh.”

Dan aku bingung lagi. Hijab? Hijab bukannya kerudung ya. Hem…

            Namun kebingunganku tak berangsur lama. Sedikit banyak aku mulai mengetahui lebih jauh tentang hal-hal tersebut dari kajian-kajian yang aku ikuti. Tak hanya kajian, aku juga mendapatkan ilmu dari mentoring. Dari mentoring itulah, aku banyak sekali bertanya pada murabbiku. Dulu aku manggilnya kakak mentor, sekarang mah udah tau namanya murabbi hehe. Aku sering sekali bertanya tentang berpakaian syar’i seperti teman-temanku. Dan yang paling kuingat saat itu…

“kakak, aku mau nanya deh. Emangnya kenapa sih kak, kok perempuan ga boleh pake celana jeans?”

Lalu dengan ramah dan sabar nya, ia menjawab, “sebenarnya bukan ga boleh. Tapi nadia tau ga, kalo pake celana itu kayak siapa?”

Lalu aku menjawabnya, “hem.. kayak cowok kak?”

“nah, itu tau. Pernah denger kan, Allah bilang dalam Al-Quran bahwa barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum itu juga.”

Aku mulai berpikir… Dan pada hari itu, aku mulai mengerti…..

Semenjak itu, aku mulai membiasakan diri kembali mengenakan rok. Dan lama kelamaan aku mulai merasa nyaman. Tidak hanya rok, aku pun mulai mengenakan kerudung yang cukup panjang. Hingga suatu ketika..

“mama, aku sekarang pake rok terus deh. Terus jilbabnya juga agak panjang. Aneh ga sih ma?”

Lalu ibuku menjawab, “engga kok. Bagus malahan.”

“hem.. temen-temen aku pada pake bajunya kayak gini, aku jadi kebawa deh.”

“ya gapapa, asal kebawanya ke arah yang baik.” Hem…


Hari terus berganti bulan, bulan berganti tahun. Tak terasa sudah banyak waktu yang kulewati di kampus ini. Banyak sekali pengalaman yang aku dapat. Tak hanya pengalaman, namun juga pengetahuan. Banyak yang telah berubah pada diriku. Bisa dibilang, aku yang dulu berbeda dengan yang sekarang. Mungkin tidak banyak yang merasakan perubahanku, tetapi teman-teman yang dekat denganku, pasti merasakannya.

Pengetahuan dan pengalaman yang kudapatkan, tidak hanya ilmu-ilmu dari perkuliahanku, tetapi juga ilmu dari kajian-kajian yang ada di kampusku, juga dari artikel-artikel yang kubaca.

Saat itu, tidak sengaja aku tengah membaca sebuah artikel tentang sahabat terbaik. Disana diceritakan bahwa suatu ketika, Rasulullah pernah ditanyakan oleh sahabatnya tentang sahabat manakah yang paling baik? Dan Rasulullah pun menjawab, bahwa sahabat yang baik adalah yang mengingatkan kamu kepada Allah apabila melihatnya, dan bertambah ilmumu apabila mendengar pembicaraannya, dan mengingatkan kamu kepada Allah apabila melihat amalannya.

Ketika membaca artikel tersebut, aku teringat akan teman-teman dekatku saat ini. Mereka lah yang mengajarkan aku tentang kebaikan-kebaikan ini, sehingga aku dapat berhijrah ke arah yang lebih baik. Mereka lah yang senantiasa mengingatkanku agar aku dapat beristiqomah pada Allah. Mereka lah yang tetap ada disampingku, ketika aku merasa sendiri dan terpuruk.

Memang benar seperti kata Umar bin Khattab, bahwa “nikmat yang paling berharga selepas iman dan islam adalah memiliki sahabat yang shalih”. Dan seperti perkataan Al-Hasan Al-Bashri, “perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.”

Kini aku tahu, apa bedanya sahabat dan sahabat surga. Keduanya memang bermakna sama, hanya saja ada perbedaan dari kata “surga”. Sahabat surga, akan selalu mengingatkanmu akan akhirat yang kekal dan memiliki syafaat di hari akhir kelak. Keduanya memang akan selalu bersamamu, tetapi sahabat surga akan bersamamu hingga hari akhir nanti. Meskipun mereka belum tentu bisa menuntunmu menuju surga, setidaknya mereka tidak menjadi jembatanmu untuk menuju ke neraka. Oleh karenanya, aku ingin menjaga kalian dan bersama kalian, sahabatku. Karena aku rasa, kalian lah sahabat surgaku. J Wallahu ‘alam..