Hari ini hari yang cerah. Hari yang sangat indah untuk
beraktifitas. Ya, hari ini adalah hari dimana aku pertama kali masuk kuliah.
Oh ya, perkenalkan namaku Annisa Ryanti. Aku terlahir di
keluarga yang sangat bahagia, dan keluarga yang beragama Islam.
Hari ini, awal aku masuk kuliah. Aku masuk di jurusan Bahasa
Inggris di salah satu universitas negeri. Senang rasanya bisa mendapatkan ilmu
baru, pengalaman baru, dan teman baru pastinya. Disini, aku mempunyai dua orang
teman baru. Namanya Dinda dan Izza. Mereka adalah teman yang baik, dan juga
pintar. Aku berkenalan dengan mereka saat masuk di ruang kuliah. Aku nyaman
disini.
Sebulan telah berlalu. Semakin banyak hal yang kudapat
disini. Termasuk berkenalan dengan kakak-kakak tingkat yang ada di kampus. Ada
satu kakak tingkat, yang saat ini cukup akrab denganku. Namanya kak Adit. Dia
pria yang baik, tubuhnya tinggi tegap, wajahnya Indonesia asli banget, dan
ganteng pastinya hehe.
Aku kenal dengannya saat aku sedang mendaftar UKM radio. Saat
itu ia adalah ketua dari ukm radio. Bisa kebayang bukan bagaimana
popularitasnya? Sudah pasti ia adalah seseorang yang cukup terkenal di kampus.
Dan saat itu….
“selamat datang di markas ukm radio.” Sapa para anggota dari ukm
tersebut dan mereka semua sambil tersenyum kearahku saat aku memasuki
ruangannya.
“terima kasih kak.” Aku membalas senyuman mereka. “oh ya,
perkenalkan saya Annisa Ryanti dari pendidikan bahasa inggris 2015.” Sambungku.
“hai Annisaaaa…” jawab mereka serempak.
“oh ya, kenalin saya Ovie dari jurusan Teknik Informatika 2014. Oh
ya, saya lupa kamu mau daftar yaa. Sebentar saya ambil formulirnya dulu yaa.”
Kata kak Ovie salah satu anggota dari ukm itu.
“ baik, kak.” Jawabku sambil tersenyum kearahnya.
Sementara aku menunggu, tiba-tiba seseorang datang dengan
muka yang lelah. Sepertinya ia habis berlari. Tapi orang itu, malah bikin salah
fokus. Ganteng bangeeet hehe.
“weh bro, kenapa lo kaya dikejar kejar gitu?” tanya kak Ryan kepada
lelaki itu.
“iya nih bro, gue kan gak mau ngecewain kalian karena gue telat.
Masa ketua nya malah telat dibanding sama anggota nya hahaha.” Jawab lelaki itu
dengan santai.
Huaaa ternyata lelaki itu adalah ketua ukm. Wah bisa-bisa aku
salah fokus terus nih kalo sering-sering ketemu dia. Hihi. Tak lama kemudian,
kak Ovie kembali dengan membawa formulir ukm.
“nih Annisa, kamu isi ya formulir ini. Habis itu kamu wawancara
dengan kak Adit.” Kata kak Ovie.
“oh iya kak. Hmm kak Adit itu yang mana ya kak?” tanyaku.
“oh kamu belum dikenalin ya tadi? Kak Adit itu ketua ukm radio ini
yang tadi baru dateng.” Jawab kak Ovie sambil tersenyum.
*DEG* matilah aku harus wawancara sama dia. Bisa-bisa jawaban
aku ngelantur mulu ini mah kalo dia yang jadi penanya aku. Aduh gimana ya?
namun dengan hati yang deg degan tidak karuan itu aku membalas perkataan kak
Ovie.
“oh emm baik kak. Saya isi formulir ini dulu yaa.” Jawabku.
Setelah selesai, aku menyerahkan formulir itu kepada kak
Ovie. Selanjutnya aku disuruh untuk menemui kak Adit. Dengan hati yang masih
tidak karuan ini, aku menemuinya di ruang ketua ukm….
“Assalamu’alaikum kak, selamat siang..” sapaku.
“wa’alaikumsalam. Mari masuk.” Jawabnya dengan lembut dan tersenyum.
Dengan langkah perlahan aku memasuki ruangannya. Sungguh, aku
tidak fokus karena melihat senyuman manisnya.. subhanallah..
“silahkan duduk.” Sambungnya.
“terima kasih kak.” Jawabku.
“oh ya, sebelumnya bisa perkenalkan diri kamu?” tanyanya.
“oh eh iya kak, nama saya Annisa Ryanti. Biasa dipanggil Annisa.
Saya dari pendidikan bahasa inggris 2015.” Jawabku dengan sangat nervous.
“ohh Annisa. Eh saya panggil Ri aja, boleh?” sambungnya.
“eh, emm iya boleh terserah kak Adit aja hehe.” Jawabku sambil
tersipu malu.
“oh kamu udah tau nama saya ya, padahal saya baru saja mau
perkenalkan diri hehe.” Balas kak Adit.
“yaa kenal atuh kak, kan kakak-kakak di depan tadi udah pada ngasih
tau saya.” Jawabku dengan pelan.
“hmm iya juga sih, tapi saya perkenalkan diri lagi ya. gapapa kan?
Hehe. Nama saya Muhammad Aditya, saya dari jurusan teknik mesin angkatan 2012.”
Sambung kak Adit sambil tersenyum kearahku.
Duhh kak Adit jangan sering-sering senyum kearah aku kenapa
sih, bikin meleleh ini yaampun. Jangan liat kearahnya Annisa ya, jangan…
Setelah itu, aku menjalani proses wawancara yang berlangsung
selama kurang lebih 30 menit. Selama itu, aku sudah tidak merasakan gugup lagi.
Alhamdulillah wawancaraku berjalan lancar.
“oke, terima kasih ya Ri sudah ikut ukm. Selamat bergabung dengan
kami.” Kata kak Adit setelah selesai wawancara.
“oh iya sama-sama kak. Semoga saya dan kakak-kakak disini bisa
berteman baik, dan kakak-kakak tidak lelah dalam mengajari saya ya hehe.”
Jawabku.
“pasti Ri, disini kita sama-sama belajar kok.” Sambung kak Adit dengan
tersenyum.
Aaaah dia selalu tersenyum. Senyuman itu yang selalu buat aku
terenyuh. Kak Adit, murah senyum banget sih…
Hari terus berlanjut. Aku menjalani aktivitas ku di kampus.
Kuliah, dan menjalani ukm. Oh ya, di ukm radio ini aku diberi tugas untuk menjadi
penyiar loh hehe.
“hallo selamat siang semuanya. Wah kalian lagi pada apa nih? Makan,
ngerjain tugas, atau gak jelas lagi ngapain? Hehe. Sambil menemani siangmu, yuk
dengerin dan tetap stay tune bersama gue Annisa di 80.2 FM radionya mahasiswa.
Untuk awali siang ini, gue punya lagu-lagu yang udah siap diputerin nih untuk
kalian. Yuk mari listen to the first song..”
Siang itu, aku memutarkan lagu Adera-lebih indah. Entah
kenapa aku memilih lagu itu. Mungkin karena aku lagi bahagia hari ini hehe.
Hari-hari terus berlalu. Begitulah rutinitasku di kampus.
Kuliah, menyiarkan radio, tugas, dan kumpul bersama teman. Termasuk kumpul
dengan kak Adit dan teman-temannya, hehe. Rutinitasku di ukm radio ini
membuatku sering berbincang dengan kak Adit. Kita sering curhat-curhatan, dan
sering main bersama di kampus.
Hingga sampailah saat ini, saat dimana liburan telah tiba.
Waah inilah momen yang paling ditunggu oleh semua mahasiswa tentunya. Banyak
temanku yang pada merantau, sudah pada pulang ke daerah asalnya. Berbeda
denganku. Aku bukan anak perantau, karena pada dasarnya aku ini sangat anak
mama. Hehe yaa maklum, perempuan kan. Rumahku tidak terlalu jauh dari kampus.
Hanya berkisar jarak kurang lebih 5km. seperti biasa, liburan aku habiskan
dirumah. Aku memang kurang suka bepergian sih, apalagi kalau tidak ada teman.
Hmmm.. namun saat itu terdengar suara ponselku berbunyi. Tumben, siapa yang
menelponku? Ternyata kak Adit!
“hallo assalamu’alaikum.” Terdengar suara kak Adit dari sana.
“wa’alaikumsalam.. kak Adit, ada apa? Tumben telpon?” tanyaku.
“yaa gak apa sih, gak boleh ya gue telpon Ri?”
“hmm boleh ko kak, cuma tumben aja gitu hehe.”
“hmm lagi sibuk gak? Jalan-jalan yuk, Ri?”
“ehmm engga juga sih kak. Jalan-jalan? Kemana?”
“yaa kemana kek, gue lagi bete nih dirumah.”
“oh gitu, ehm yaudah kak boleh. Mau kapan?”
“yey asik nih. Hari ini abis dzuhur ya gue jemput.”
“ah? Eh kak gausah jemput, ngerepotin atuh. Lagian kakak emang tau rumah
Ri?”
“engga sih hehe, yaudah kalo gitu ketemu dimana dong?”
“di depan kampus aja kak, gimana?”
“oh oke deh abis dzuhur ya. gue tunggu.”
“oke kak.”
“assalamu’alaikum.”
“wa’alaikumsalam…”
Telepon terhenti. Entah kenapa hatiku seketika jadi berdebar
debar gini. Selalu saja, kalau berhubungan dengan kak Adit selalu begini. Ia
mudah sekali untuk membuatku terlena dengan kelakuannya. Hmm.
2 jam berlalu. Setelah sholat dzuhur, aku langsung
bersiap-siap untuk berangkat. Aku hanya mengenakan t-shirt putih dengan rok
levis dan kerudung warna biru muda. Aku memang tidak terlalu memperhatikan
penampilanku. Yang penting, aku rapi. Itu sudah cukup bagiku hehe. Aku juga
bukan perempuan yang suka dandan. Padahal seringkali teman-temanku nyuruh aku
untuk dandan. Tapi aaah ribet, aku bukan tipe cewe yang senang berlama-lama
dandan. Aku tidak suka ribet!
Lalu setelah mengendarai sepeda motor selama 20 menit,
sampailah aku di depan kampus. Dan sudah ada kak Adit disana.
“assalamu’alaikum kak, maaf ya kak nunggu. Udah lama ya disini?”
sapaku dengan rasa tak enak hati.
“wa’alaikumsalam. Engga ko gak apa. Baru 5 menit disini.” Jawab kak
Adit dengan nada lembut dan senyum yang selalu sumringah. “oh ya, kita ke taman
asri yuk.” Ajaknya.
“boleh.” Jawabku sambil tersenyum kearahnya.
Hari itu kita pergi ke taman asri. Aku belum pernah kesini
sebelumnya. Tapi ternyata taman ini indah banget. Bunga-bunganya bermekaran
indah, seperti hati yang sedang dilanda rasa cinta hehe.
“yuk kita duduk disini.” Ajak kak Adit. “gimana Ri? Indah kan?”
sambungnya.
“indah kak, banget. Ri suka disini. Sejuk juga walaupun siang karena
banyak pohon yang rindang juga.” Jawabku.
“gue suka kesini kalo gue lagi ngerasa gak mood. Tapi sekarang gue
kesini sama lo.” katanya dengan lembut.
“taman itu emang bikin hati kita damai kak. Makanya Ri suka ke
taman, lihat bunga-bunga. Terkadang ada pohon juga, seperti pohon itu tuh kak.
Lihat deh. Pohon itu ada di tengah-tengah ribuan bunga. Ri pengen seperti pohon
itu. Walaupun ia sendiri tapi ia tetap berdiri tegak diantara ribuan bunga.”
“widihhh, puitis juga lo Ri. Hahaha.”
“eh engga kak, maaf jadi ngelantur deh ngomongnya hehe.”
“gapapa lagi. gue seneng sama orang yang suka buat kata-kata indah
kaya gitu. Gue emang gak suka nulis gituan, tapi gue suka baca-baca itu.”
“hmm awalnya Ri juga suka baca-baca kak, tapi terkadang kalo mood Ri
lagi ada, Ri tuangin lewat tulisan aja hehe.”
“bagus dong.. hehe.”
2 jam telah berlalu. Kami habiskan waktu dengan banyak
bercerita. Sudah cukup banyak aku tahu tentang kak Adit. Ternyata ia tidak
hanya ganteng, baik, pintar, dan popular. Tapi ia juga merupakan salah satu
mahasiswa yang berprestasi di bidang akademik loh dan ia juga sangat sayang
dengan orang tuanya, terutama ibunya. Oh my God, wanita mana yang tidak jatuh
cinta padanya. Tetapi yang aku tahu, ia belum memiliki pacar sampai saat ini.
Namun ketika aku sedang asyik berbincang dengannya, tiba-tiba
aku merasakan sakit yang amat sangat di kepalaku. Entah kenapa, aku belum
pernah merasakan sakit yang teramat sangat seperti ini, ya Allah..
“Ri, kenapa? Muka Ri ko
pucat banget? Ri sakit? Duh, yaudah kita pulang ya. gue anterin sampe rumah.”
Kata kak Adit dengan khawatir sambil memopong tubuhku yang sangat lemas itu.
“tapi kak, Ri kan bawa
motor sendiri. Gausah dianter kak, gapapa ko. Ini pusing aja nanti juga ilang
pusingnya.” Jawabku untuk menenangkannya.
“engga, pokoknya gue
anter lu pulang. Gapapa, lu bawa motor biar gue jagain dari belakang sekalian
biar gue tahu rumah lu ya.”
Saat itu, aku tidak bisa menolak perkataan kak Adit. Memang
sebenarnya aku juga takut kalau harus pulang sendiri naik motor dengan keadaan
seperti itu. Setelah kurang lebih 40 menit, sampailah aku dirumah. Kak Adit
dengan sigap langsung memopongku lagi hingga aku sampai di depan pintu rumah
dan ibuku membukanya.
*tok *tok *tok *tok
“assalamu’alaikum…”
kata kak Adit.
“wa’alaikumsalam. Eh
Annisa, kamu kenapa sayang? Muka kamu pucat banget ya Allah.” Dengan spontan
ibuku memopongku. “eh nak, siapa ya?” tanya ibuku kepada kak Adit.
“oh ya bu, saya Adit kakak
kelasnya Annisa di kampus. Tadi saya sedang main dengan Annisa di taman, terus
tiba-tiba Annisa kesakitan gitu pegang kepalanya. Makanya saya langsung antar
dia pulang.” Jawab kak Adit sambil salim kepada ibuku.
“oh gitu, terima kasih
ya nak sudah antar Annisa pulang.” Sambung ibuku.
“iya bu, sama-sama.
saya pulang dulu ya bu. Ri, cepet sembuh yaa. Assalamu’alaikum.” Pamit kak Adit
kepadaku dan ibuku.
“iya nak hati-hati ya,
wa’alaikumsalam.” Jawab ibuku.
“iya kak, makasih ya
udah anter Ri. Wa’alaikumsalam.” Sambungku dengan suara yang lemah.
Setelah itu, kak Adit berlalu dengan motornya. Ibuku langsung
membawaku ke kamar. Dengan perasaan yang sangat khawatir ibuku membuat
kompresan untukku.
“bu, Annisa udah gapapa
ko. Ibu istirahat aja ya. Annisa gak mau ibu sampe kecapean gara-gara ngerawat
Annisa.” kataku.
“engga, ibu gak apa kok
sayang. Tapi badanmu Alhamdulillah udah turun panasnya.” Jawab ibuku sambil
memegang dahiku.
3 hari berlalu. Namun rasa sakit di kepalaku tak kunjung
hilang. Aku merasa ada keanehan disini. Entah apa yang membuat rasa sakit ini
tidak hilang dari kepalaku. Hingga akhirnya orang tuaku membawaku ke rumah
sakit. Setelah menjalani pemeriksaan dan melakukan rontgen kepalaku, orang
tuaku berbicara serius dengan dokter yang menanganiku. Namun saat itu, aku tak
sengaja mendengarnya.
“apa dok? Anak saya…”
kata ibuku sambil menahan air matanya yang sudah terbendung.
“iya, anak ibu
mengalami kanker otak stadium 1. Ia masih bisa menjalani kemoterapi untuk
menghambat penyebaran sel kankernya. Dan bisa juga menjalani pengobatan dengan
operasi di otaknya.” Kata dokter yang menanganiku.
Ya Allah, apa aku tak salah dengar? Aku… aku menderita
penyakit yang berbahaya. Aku tak menyangka hal ini bisa terjadi padaku, ya
Allah. Aku tahu Engkau maha penyayang. Aku tahu Engkau sangat menyayangiku,
sehingga Engkau mengujiku dengan cara seperti ini. Kuatkan aku ya Allah. Engkau
adalah sebaik-baik penolong untukku.
5 hari berlalu. Aku mulai menjalani kemoterapi di rumah
sakit. aku harus kuat, ya harus. Aku tidak boleh menyerah pada keadaan ini. Aku
pasti bisa sembuh! Memang tak mudah menjalaninya, namun aku yakin tidak ada
yang tidak mungkin bagi Allah.
Hari-hari terus berlalu. Sejak kejadian di taman asri pada
hari itu, kak Adit setiap hari menghubungiku. Namun tak pernah aku angkat
telepon darinya. sebenarnya aku tak bermaksud membuatnya khawatir denganku,
namun aku tak mau dia tahu bahwa aku mengidap penyakit ini. Sampai akhirnya, ia
berkunjung kerumahku untuk mengetahui kabarku.
*tok *tok *tok *tok
“assalamu’alaikum…”
salam kak Adit.
“wa’alaikumsalam. Eh
nak Adit, ya? benar kah? Apa ibu salah?” jawab ibuku.
“iya bu, saya Adit. Apa
kabar bu?” balas kak Adit sambil salim kepada ibuku.
“Alhamdulillah baik,
nak Adit sendiri gimana? Oh ya masuk yuk nak.” Ajak ibuku kepada kak Adit untuk
masuk ke dalam rumah.
“oh iya, bu terima
kasih.” Jawab kak Adit dengan santun. “Alhamdulillah saya baik juga bu.. oh ya
bu, Annisa nya ada? Annisa apa kabar bu? Udah seminggu ini saya hubungi dia
tapi ga pernah dijawab kok ya..” sambung kak Adit.
“Annisa… ehm Annisa gak
ada disini nak.” Jawab ibuku dengan raut wajah yang sedih.
“gak ada bu? Loh lalu
Annisa ada dimana sekarang bu?” balas kak Adit dengan penasaran dan khawatir.
“Annisa.. ehm Annisa..
dia sekarang di rumah sakit, nak.” Kata ibuku sambil menundukkan pandangannya.
“hah? Apa bu? Di rumah
sakit?” sambung kak Adit dengan spontan. “ehm dia disana ngapain bu? Dia sakit?
sakit apa?” sambungnya.
“nanti kamu juga tahu
nak. Ibu gak bisa ngejelasin ke kamu ya, maaf. Kalo kamu mau tengok Annisa, dia
ada di rumah sakit Harapan Kasih di ruang cemara lantai 2.” lirih ibuku.
“baik, bu. Kalo gitu
saya permisi ya bu. Saya kerumah sakit sekarang. Assalamu’alaikum.” Pamit kak
Adit.
“hati-hati ya nak, ibu
titip Annisa sebentar. Ibu mau beresin rumah dulu soalnya. Wa’alaikumsalam.”
Jawab ibuku.
Setelah itu, kak Adit langsung bergegas untuk kerumah sakit.
20 menit berlalu hingga akhirnya kak Adit sampai. Ia langsung menemuiku di
kamar. Saat itu, aku sedang berbaring dan mencoba untuk mengambil minum yang
ada di meja sebelahku. Namun saat itu…
“eh eh eh..”
Gelasku terjatuh, namun tiba-tiba..
“Ri, hati-hati dong.
Untung ada gue, kalo enggak ini gelas udah pecah berkeping keping kali.”
Ledeknya.
Kak Adit! Aku terkejut akan kehadirannya. Entah aku harus
senang atau sedih. Namun yang pasti kehadirannya membuatku tersenyum. Ia datang
dengan senyumannya yang selalu manis. Ia selalu menghiburku. Tanpa kusadari air
mataku jatuh saat itu juga.
“loh.. kenapa sih itu
nangis? Ri gak suka kalo kak Adit dateng kesini? Yaudah kak Adit pulang deh…”
katanya sambil memasangkan muka cemberut kepadaku.
“kaak..” jawabku sambil
menarik tangannya. “kok baru dateng udah pergi lagi? emang gak cape?” sambungku
sambil tersenyum padanya.
“abisnya percuma dong
kak Adit kesini tapi Ri malah nangis.. senyum dong, kan senyum itu ibadah.”
Kata kak Adit sambil membuat senyum di wajahku dengan tangannya.
“ihh kak Adit apaasih.
Hehehe. Duduk kak.” Sambungku.
“Ri, pake apaan sih ini
banyak selang gini. Ri cepet pulang dong. Ri gak mau emang main ke taman lagi
sama kak Adit? Bunga-bunga sama pohon di taman rindu sama Ri tuh..”
“hehehe. Ini alat buat
Ri nafas kak. Kalo gak pake nanti Ri gak bisa cepet pulang dong.”
“Ri, seminggu ini kamu
kemana? Aku hubungin kok gak pernah dijawab. Ri seneng ya bikin kak Adit
khawatir dari hari itu?”
“engga kak. Ri gak
bermaksud gitu. Maafin Ri ya kak.”
“ya jawab dulu
kenapa..”
“Ri gak mau ngerepotin
kak Adit. Ri gak mau kalo kak Adit tau kalo Ri sakit..”
“Ri, kak Adit sayang
sama Ri. Kak Adit gak mau Ri kenapa-kenapa.”
“Ri gak apa kok kak..”
kataku sambil tersenyum. “kak, kalo misalnya nanti Ri gak bisa nyiarin radio
lagi, gimana?” sambungku dengan suara yang pelan.
“ihhh Ri, kamu ngomong
apa sih? Liburan masih ada 20 hari lagi. Ri pasti sembuh nanti, bisa nyiarin
radio kampus lagi pas masuk kuliah ya..” jawabnya dengan menenangkanku.
Namun tiba-tiba aku merasa sangat mual. Dan aku muntah saat
itu, di hadapan kak Adit.
“Ri.. Ri kenapa? Ya
Allah.” Kata kak Adit dengan panik sambil membantuku untuk kembali tidur di
kasur, dan mengelap bekas muntahan yang ada di mulutku. “sebentar ya, kak Adit
panggil dokter.” Sambungnya sambil berlalu dari hadapanku untuk memanggil
dokter.
Tak lama kemudian, dokter datang dan langsung memeriksaku.
Aku kembali ngedrop.
“sel kanker nya sudah
mulai menyebar lagi, jika tak segera dilakukan operasi maka kemungkinan untuk
sembuh akan semakin sulit.” Kata dokter yang menanganiku.
“astagfirullah.. iya
baik dok, insya Allah secepatnya saya akan mengusahakan agar Annisa bisa
dioperasi.” Jawab kak Adit.
Aku yang mendengarnya dengan samar-samar, hanya bisa kembali
menitikkan air mata. Ya Allah, jika memang ini jalanku untuk segera menghadapMu
aku ikhlas…
Sementara itu, saat ibuku sedang membereskan rumah tiba-tiba
ada seseorang yang datang kerumahku dan bertemu dengan ibu.
*tok *tok *tok *tok
“assalamu’alaikum,
bu..” sapanya sambil salim dengan ibuku.
“wa’alaikumsalam.. eh,
ini nak Rizky bukan?” balas ibuku sambil menatapnya dari atas sampai bawah.
“yuk mari masuk, nak.” Ajak ibuku kepada Rizky, dan ia mengikutinya.
Rizky! Iya dia adalah Rizky. Lelaki yang pernah menjadi
pacarku ketika masih di bangku SMA. Dia lelaki yang dulu menyakitiku karena
perbuatannya. Dia ternyata memiliki pacar lain selain aku. Kau tahu rasanya
jika menjadi sepertiku bukan? Namun saat ini tiba-tiba dia kembali, dia datang
kerumahku. Untuk apa? Entahlah.
“iya, bu.. saya Rizky.
Ibu masih ingat sama saya. Hehe. Apa kabar bu?” tanyanya.
“Alhamdulillah, baik.
Nak Rizky sendiri apa kabar? Udah lama ya gak ketemu.”
“Alhamdulillah baik
juga, bu. Iya saya sedang sibuk kerja, bu. Hehehe. Baru sempat main kesini.”
“owalah.. kerja toh
sekarang, enak dong ya..”
“yaa Alhamdulillah,
bu.. hehehe.. oh ya bu, Annisa apa kabar ya?”
Seketika ibuku kembali bersedih dan menundukkan pandangannya.
“bu, ibu kenapa?”
tanyanya dengan heran.
“oh engga, ibu gak apa
kok.” Jawab ibuku dengan mengusap air mata yang sudah hampir jatuh di pipinya.
“Annisa baik kok, nak.” Sambungnya.
“oh syukurlah kalo
gitu. Hmm sekarang Annisa nya dimana ya, bu? Kok gak keliatan ya daritadi
hehehe.” Tanyanya lagi sambil celingak celinguk melihat di sekitar ruangan
rumahku.
“ehm, Annisa.. dia.. di
rumah sakit, nak.” Jawab ibuku dengan terbata-bata.
“apa bu? Di rumah
sakit? kok dia disana bu? Ngapain?”
“iya, Annisa sakit nak.
Kanker otak stadium 1.”
“innalillahi.. terus
sekarang dia ada di rumah sakit mana bu?”
“rumah sakit Harapan
Kasih, nak. Tapi kamu gak perlu kesana sekarang, karena ada nak Adit yang
sedang menjaganya disana.”
“ohh, ehm gitu ya bu.
Adit itu siapa ya bu?” tanya Rizky dengan penasaran dan wajah yang menunjukkan
jika ia merasa tak suka.
“nak Adit itu kakak
kelas Annisa di kampus.”
“oh gitu ya, bu.. kalo
gitu ibu punya nomor handphone nya gak? Saya mau tanya kabar Annisa lewat dia
saja, bu.”
“ada, nak sebentar yaa..”
Setelah itu, ibuku memberikan nomor handphone kak Adit kepada
Rizky. Aku tak tahu mengapa Rizky memintanya. Hmm. Lalu setelah diberikan nomor
handphone kak Adit, Rizky langsung berpamitan kepada ibuku.
Hari berikutnya…..
*kriiiing*
“hallo assalamu’alaikum..”
jawab kak Adit.
“wa’alaikumsalam.. apa
benar ini nomor Adit temannya Annisa?” tanya seseorang diujung suara sana.
“iya benar. Maaf ini
dengan siapa ya?” tanya kak Adit.
“gue Rizky, teman dekat
Annisa waktu SMA. Bisa kita ketemu? Ada hal yang mau gue tanyain sama lo. kita
ketemu di halaman depan kampus lo ya siang ini jam 2. Gue tunggu.
Assalamu’alaikum.” Jawabnya dengan tegas dan langsung mematikan handphone nya.
“eh, tunggu…” belum
sempat kak Adit bertanya maksudnya, namun sudah terlanjur dimatikan teleponnya.
“wa’alaikumsalam..”
Kak Adit bingung dengan lelaki itu. Dia siapa? Teman SMA
Annisa, lalu mau apa dia bertemu dengannya?
Namun siang itu kak Adit memenuhi perkataan Rizky.
Sesampainya kak Adit disana, sudah ada Rizky yang menunggunya.
“ehm, hey lo ini Rizky
kah?” sapa kak Adit sambil memegang bahunya.
“oh, iya. Lo Adit?”
tanyanya. “oke, silakan duduk.” Sambungnya dengan mempersilahkan kak Adit
duduk.
“thanks..” jawab kak
Adit. “btw, ada apa lo nyuruh gue ketemu sama lo?” sambungnya.
“lo.. kakak kelasnya
Annisa di kampus?” tanya Rizky dengan wajah sinis.
“iyaa. Kenapa ya?”
jawab kak Adit dengan bingung.
“gue Rizky. Temen deket
sekaligus mantan Annisa waktu SMA.” Kata Rizky sambil mengulurkan tangannya ke
arah kak Adit dan dibalas uluran tangan dari kak Adit. “gue mau tanya, lo ada
hubungan apa sama Annisa?” sambungnya.
“oh Ri, eh Annisa itu
gue anggep sebagai adek gue sendiri. Kenapa?”
“lo bukan pacarnya? Lo
sayang sama dia?”
“engga, gue bukan
pacarnya. Tapi gue sayang Annisa.”
“hooh.. gue boleh minta
sesuatu?” tanya Rizky dengan nada yang agak melembut. “tolong, lo jauhin
Annisa. gue pengen Annisa bisa sama gue lagi. biar gue yang jagain dia.”
Sambungnya.
“kenapa gue harus
menjauh dari dia?”
“karena gue gak mau
Annisa lebih milih lo daripada gue.”
Setelah berpikir sejenak, akhirnya kak Adit menjawab
perkataan Rizky.
“oke, gue akan menjauh
dan membiarkan lo deketin Annisa. tapi gue minta satu hal sama lo, tolong lo
jagain Annisa dengan baik. Dia wanita baik, dia kuat, dia gak mudah menyerah. Gue
yakin dia bisa sembuh melawan penyakitnya. Lo janji?” tanya kak Adit.
“iya, gue janji. Thanks
ya, bro.” jawab Rizky.
Setelah kejadian itu, pertemuan mereka membuat kak Adit
menjauh dariku. Ia tak pernah lagi menjengukku. Tak pernah lagi menjagaku. Aku bingung,
sekaligus khawatir. Ada apa dengan kak Adit? Kenapa dia tiba-tiba menghilang
begitu saja?
Keesokan harinya…
*tok *tok *tok *tok
Seseorang mengetuk pintu kamarku di rumah sakit. siapa ya? ah
pasti itu kak Adit.
“iya, masuk..” kataku
kepada seseorang diluar pintu itu.
Lalu orang itu membuka pintunya, dan ternyata….
“assalamu’alaikum,
Annisa..” sapanya dengan tersenyum kepadaku.
Orang itu adalah Rizky! Kenapa ada dia disini? Kenapa bukan
kak Adit? Kak Adit kemana? Aku mau kak Adit, bukan Rizky.
“wa’alaikumsalam..
Rizky.. lo kok ada disini? Tau gue darimana?” tanyaku.
“iya dong gue tau, kan
gue kerumah lo. gue kangen lo, udah 6 bulan kita gak ketemu. Eh ternyata lo ada
disini kata ibu lo.” jawabnya sambil memberikan se bouquet bunga untukku.
“makasih..” jawabku
singkat.
“lo baik-baik aja kan
Nis? Gue khawatir dengan keadaan lo kaya gini. Gue janji gue bakal temenin lo
terus sampe lo sembuh, ya?”
“ehm gak usah.. gue
bisa sendiri kok. Gue gak apa. Mendingan lo pulang aja, gue juga mau
istirahat.”
“yah, Nis.. gue baru
aja ketemu lo. tapi, yaudah deh gak apa. Lo istirahat aja. Lo baik-baik ya
disini, semoga lekas sembuh. Kalo lo perlu apa-apa telepon gue aja ya. Gue
balik dulu. Besok gue kesini lagi ok. Assalamu’alaikum.” Pamitnya.
“wa’alaikumsalam.” Jawabku.
Sejak hari itu, setiap hari setiap Rizky pulang kerja, dia
selalu menemuiku di rumah sakit. dia menjagaku, dia menemaniku saat kemoterapi.
Tapi aku tidak butuh dia, aku butuh kak Adit. Bukan Rizky. Kak Adit kemana?
“bu, kak Adit kemana
sih bu? Kok sudah seminggu ini gak ada kabarnya? Kok dia tiba-tiba hilang gitu
aja….” Tanyaku dengan nada lemas.
“ibu juga gak tau
sayang. Mungkin dia sibuk. Lagipula kan ada Rizky yang nemenin kamu disini kalo
ibu pulang..” jawab ibuku sambil mengusap kepalaku.
“tapi aku gak mau
ditemenin Rizky, bu. Aku maunya kak Adit.”
“sabar sayang, nanti
juga kalo kak Adit gak sibuk dia nemenin kamu lagi disini.”
10 hari kemudian, keadaanku semakin melemah. Ya Allah aku
harus menjalani kemoterapi berapa lama lagi? kapan aku bisa sembuh kembali
seperti sediakala?
Aku rindu kak Adit. Sudah berhari-hari aku tanya kabarnya
namun tidak ada balasan. Hingga akhirnya hari itu, kucoba telepon lagi ke
nomornya. Dan ternyata diangkat!
“hallo
assalamu’alaikum.. kak Adit..” sapaku dengan suara yang melemah.
“wa’alaikumsalam, Ri?
Ada apa?” jawab kak Adit.
“kak Adit kemana aja?
Kok Ri sms, bbm, telepon, gak pernah dijawab? Kak Adit lupa sama Ri ya? kak
Adit ngerasa kerepotan ya nemenin Ri?”
“ya ampun, enggak Ri..
kak Adit lagi ada kerjaan aja nih. Makanya gak sempet nemenin Ri lagi. lagipula
ada Rizky kan yang nemenin Ri? Gak kesepian dong? Rizky sama kak Adit sama aja
kan?”
Rizky.. kok kak Adit bisa tau Rizky? Tau darimana? Atau
jangan-jangan…
“Ri mau kak Adit disini,
bukan Rizky. Tapi kok kak Adit tau Rizky? Tau darimana? Jangan-jangan Rizky
yang nyuruh kak Adit buat gak deket-deket sama Ri lagi?”
“eh, ehm enggak Ri. Kak
Adit tau dari… ehm dari ibunya Ri.”
“bohong. Kak Adit
bohong. Ri gak mau lagi temenan sama kak Adit. Oke, Ri bakal buktiin kalo Ri
juga bisa tanpa kak Adit apalagi Rizky. Ri bisa sendiri buat sembuh.” Jawabku
dengan air mata yang sudah tergelinang di pipi.
Hari itu, aku putuskan untuk berjuang sendiri melawan
penyakitku. Meskipun Rizky selalu datang, namun aku tak pernah menghiraukannya.
Saat itu, tiba-tiba Rizky kembali menghubungi kak Adit. Dia
meminta untuk bertemu dengan kak Adit lagi di halaman kampus.
“hey bro, ada apa?”
tanya kak Adit.
“gue nyerah.
Keliatannya Annisa udah gak mau lagi sama gue. Perhatian gue selama ini pun gak
pernah ditanggepin sama dia. Gue tau sayang dia itu bukan buat gue. Tapi buat
lo.” jawab Rizky dengan pasrah.
“tapi, gue…”
Belum sempat kak Adit menyelesaikan perkataannya, Rizky
langsung menyambungnya..
“gue serahin Annisa ke
lo lagi. hari sabtu besok dia operasi. Gue harap lo bisa ada disana.” Sambung
Rizky dengan memegang bahu kak Adit.
“baik, insya Allah gue
akan jaga Annisa. tapi, kalo lo pengen ketemu Annisa, lo boleh dateng kapan
aja.” Jawab kak Adit.
“thanks ya bro. gue tau
lo cowo yang tepat buat Annisa.”
Pertemuan mereka pun berakhir hari itu.
3 hari berlalu. Hingga akhirnya sampai di hari Sabtu, hari
dimana aku harus menjalani operasi.
“bu, doakan Annisa ya
semoga operasi Annisa berjalan lancar dan Annisa bisa kembali sehat biar bisa
nemenin ibu masak dirumah.” Kataku kepada ibu sambil menangis.
“iya sayang. Ibu selalu
mendoakanmu. Berjuang ya sayang, ibu tau kamu kuat.” Jawab ibuku dengan mata
yang berlinang.
Kemudian dokter dan suster membawaku ke ruang operasi. 5
menit berlalu, tiba-tiba..
“assalamu’alaikum,
bu..” sapa lelaki itu.
“wa’alaikumsalam.. eh
nak Adit. Apa kabar? Kok bisa ada disini?” tanya ibuku.
Kak Adit! Dia datang di hari itu. Namun sayangnya, aku tak
bisa melihatnya.
“iya bu. Rizky
memberitahu saya kalo hari ini Annisa menjalani operasi. Annisa nya dimana bu?”
tanya kak Adit.
“Annisa ada di dalam
ruang operasi, nak. Doakan ya semoga dia dapat melewati ini semua.”
“aamiin..”
2 jam berlalu. Hingga akhirnya operasiku selesai. Dan dokter
keluar dari ruang operasi.
“bagaimana operasinya,
dok? Bagaimana keadaan Annisa?” tanya ibuku.
“Alhamdulillah
operasinya berjalan lancar. Annisa masih dalam proses pemulihan. Sebaiknya
jangan ditemui dahulu ya, bu. Saya permisi.” Kata dokter itu.
“alhamdulillah. Terima
kasih dokter.” Jawab ibuku.
“Alhamdulillah, bu.
Annisa berhasil melewatinya. Saya tahu Annisa memang wanita kuat dan gak
gampang menyerah buat melawan penyakitnya.”
“iya, nak.. berkat
dukungan kamu juga dia bisa kuat menghadapinya.” Kata ibuku. “kamu tau?
semenjak kehadiran Rizky, dia justru kurang bersemangat. Hingga akhirnya dia
meneleponmu dan bilang sama ibu kalo kamu menghilang karena membiarkan Rizky
yang mendekati Annisa lagi. tapi sungguh, dia sedih banget pas tau kalo kamu
menjauh dari dia karena Rizky. Maka sejak itulah dia jadi bersemangat untuk
melawan penyakitnya sendiri tanpa bantuan siapapun selain keluarganya.” Ibuku
menjelaskan kepada kak Rizky.
“maafin saya ya bu.
Saya gak bermaksud ninggalin Annisa, sungguh.” Sambung kak Adit sambil
menundukkan pandangannya dan memegang tangan ibuku.
“sudahlah, gak apa nak.
Yang penting sekarang kamu ada disini. Kalo Annisa tau, pasti dia senang.” Kata
ibuku sambil tersenyum kepada kak Adit.
Alhamdulillah, akhirnya operasiku berjalan lancar. Aku bisa
kembali sehat! Ya Allah sungguh besar karuniaMu untukku.
Keesokan harinya, aku mulai dipindahkan ke ruang rawat inap
kembali. meskipun masih dalam keadaan lemah dan memakai infus, setidaknya aku
sudah tidak perlu memakai selang oksigen lagi. hari itu aku mulai membuka
mataku.
“Alhamdulillah, kamu
sudah sadar sayang?” kata ibuku sambil tersenyum.
“ehm, ibu.. aku masih
di rumah sakit ya.. kok aku gak pulang sih bu..”
“ihh kamu baru juga
melek udah minta pulang.”
“Annisa gak betah bu
lama-lama disini. Udah hampir sebulan disini bosen bu.”
“iya, sabar. Besok juga
kamu bisa pulang kok sayang.”
“beneran, bu?
Alhamdulillah akhirnya aku bisa bebas dari sini….” Kataku dengan antusias dan
tersenyum.
“makanya, hari ini kamu
harus bener-bener pulih dulu yaa. Makan yang bener jangan susah loh.” Sambung
ibuku.
“siaaap, ibuuuu.” Jawabku
sambil menirukan gaya hormat kepada ibuku.
Keesokan harinya, aku sangat bersemangat untuk pulang.
Meskipun kondisi tubuhku yang masih lemas dan pucat sehingga harus menggunakan
kursi roda, tapi aku sudah jauh lebih baik. Lalu setelah semuanya rapi, aku segera
didorong untuk keluar kamar oleh ibuku. Namun ketika aku membuka pintu kamar
untuk keluar, tiba-tiba….
“assalamu’alaikum. Ada Ri
nya gak?” sapa lelaki itu dengan wajahnya yang sengaja ditutupi oleh bouquet
bunga.
Aku tahu suara itu, aku kenal siapa orang itu. Satu-satunya
orang yang memanggilku dengan sebutan Ri. Ya, dia itu… Kak Adit! Mimpi apa aku
semalam, tiba-tiba dia ada disini. Menjemputku dan membawakan bunga yang indah
seperti di taman asri. Selalu saja dia datang dengan senyumannya yang indah.
“wa’alaikumsalam.. kak
Adit…” dengan antusias aku meraih bunga itu dan memeluk tangannya. “kak Adit
kemana aja sih, kok baru dateng pas Ri udah sembuh.” Sambungku dengan raut
wajah yang sok sinis kepadanya.
“ih kata siapa? Aku
dateng loh, nungguin kamu dan nemenin ibu pas kamu lagi operasi. Tanya aja ibu,
wleeee.” Jawabnya dengan meledekku.
“ih ibuuuu, kenapa ibu
gak cerita kalo kak Adit dateng pas Annisa operasi?” gerutuku kepada ibu.
“hehe maaf sayang, kan
biar surprise kaya sekarang.” Kata ibuku santai dengan mengedipkan matanya
kepadaku.
“hmm ibuuu.” Jawabku
dengan nada manja.
“yaudah, sekarang kita
pulang yuk. Naik mobil saya aja, bu. Kebetulan saya bawa mobil.” Kata kak Adit.
“oh, terima kasih
banyak nak.” Kata ibuku.
“iya bu, sama-sama.
sini bu, biar saya aja yang bawain tasnya.”
Hmm kak Adit. Dia selalu saja bisa meluluhkan perasaan orang.
Orang yang baik sekali. Tak hanya baik kepadaku, namun juga kepada ibu.
40 menit berlalu, sampailah kami di rumah. Namun saat aku
hendak turun…
“eh sebentar jangan
turun dulu, Ri.” Kak Adit menahanku.
“kenapa?” tanyaku
bingung.
Lalu kak Adit tiba-tiba berjalan kearah ibuku.
“bu, maaf sebelumnya.
Kalo saya ajak Annisa pergi jalan-jalan sebentar boleh, bu?” izin kak Adit
kepada ibuku.
“oh yaa, silahkan. Tapi
jangan jauh-jauh dan bikin Annisa cape ya nak.” Jawab ibuku.
“baik, bu. Lagipula kan
ada kursi rodanya. Nanti biar dia pakai kursi rodanya bu.” Jelas kak Adit.
“kalo gitu saya permisi ya bu. Assalamu’alaikum.” Pamit kak Adit sambil salim
kepada ibu.
“hati-hati ya, nak.
Wa’alaikumsalam.”
Hari itu, kak Adit mengajakku pergi. aku tak tahu dia
membawaku kemana. Dia menutup mataku agar aku tak mengetahuinya.
“yeey udah sampe.
Sebentar ya aku ambil kursi roda dulu.” Katanya. “yuk turun, pegang bahuku ya
Ri.” Sambungnya dengan menggendongku untuk duduk di kursi roda.
“duhh kak, ini dimana
sih…” gerutuku.
“udah diem aja.. nanti
juga tau..” kata kak Adit.
Setelah itu dia mendorong kursi rodaku. Membawaku ke tempat
yang ia rahasiakan. 3 menit berlalu, akhirnya ia memberhentikan kursi rodaku.
Dan membuka penutup mataku.
“udah, sekarang kamu
boleh buka mata kamu.” Kata kak Adit sambil tersenyum.
Aku membuka mataku. Dan ternyata….
“kaaak, ini Ri gak
mimpi kan?” tanyaku sambil mengucek-ngucek mataku.
“ya enggak lah. Ini
beneran.” Jawabnya. “gimana? Suka gak?” sambungnya.
Pemandangan ini sungguh, indah sekali. Kak Adit menghias
taman asri itu dengan membuatkan ayunan diantara dua pohon yang terletak di
tengah-tengah ribuan bunga. Juga terdapat hiasan bola-bola lampu yang terdapat
di sekeliling taman asri. Aku sangat kagum dengan keindahan yang kulihat ini.
“suka kak, banget. Ini
semua kakak yang hias?” tanyaku lagi.
“iyaa, kemarin sore aku
menghiasnya. Makanya aku gak bisa nemuin kamu kemarin. Maaf yaaa.” Jawabnya
sambil jongkok dihadapanku dan tersenyum.
“kaak, ini udah lebih
dari cukup buat Ri. Ri gak pernah kepikiran kalo kak Adit bakal ngelakuin ini
buat Ri.” Kataku dan tanpa kusadari aku menitikkan air mata.
“sssttt, eh kenapa kok
Ri nangis? Iya, ini sebagai permintaan maaf kak Adit juga karena waktu itu kak
Adit sempat menghilang dari Ri.” Jelasnya. “jangan nangis lagi yaa Ri.”
Sambungnya sambil mengusap air mataku.
“makasih banyak ya kak,
Ri sayang sama kak Adit.” Sambungku dan dengan reflek aku memeluknya.
“sama-sama Ri. Kak Adit
juga sayang sama Ri, sayang banget.” Jawabnya dengan membalas pelukanku dan
mengusap kepalaku.
Itu adalah hari dimana hari yang terindah dalam hidupku. Kak
Adit tak hanya hadir disaat aku senang, tetapi ia juga hadir disaat aku susah.
Kehadirannya selalu memberikan warna yang indah dalam hidupku. Terima kasih ya
Allah, Engkau telah menghadirkan dia untukku. Untuk menemani hariku, dan untuk
menemani hidupku.
3 tahun kemudian, kak Adit telah wisuda. Dia telah menjadi
sarjana teknik, dan telah mendapatkan pekerjaan sebagai mekanik di suatu
perusahaan ternama. Ia pun telah melamarku, dan kau tahu? ia melamarku di
tempat yang sangat indah. Di taman asri. Ya, taman yang menjadi tempat favorit
aku dan kak Adit untuk menghabiskan waktu ketika sedang tidak mood. Dan setelah
aku wisuda, kak Adit segera menikahiku.
Bagiku, tak perlu dia yang sempurna. Cukup dia yang bisa
selalu menghadirkan senyuman untukku, dan dia yang selalu ada untukku dalam keadaan
apapun. Dia yang sayang denganku, terutama dengan keluargaku. Dia adalah kak
Adit. Aku merasa menjadi seorang wanita yang sangat bahagia, karena memiliki
suami seperti kak Adit. Semoga ia akan selalu menemaniku sampai akhir hayat
nanti.
Begitulah cerita tentang aku, kamu dan taman asri. Taman Asri
yang merupakan tempat terindah yang selalu menjadi saksi tentang cerita aku dan kak Adit....



