Selasa, 19 Januari 2016

Aku, Kamu, dan Taman Asri


Hari ini hari yang cerah. Hari yang sangat indah untuk beraktifitas. Ya, hari ini adalah hari dimana aku pertama kali masuk kuliah.

 Oh ya, perkenalkan namaku Annisa Ryanti. Aku terlahir di keluarga yang sangat bahagia, dan keluarga yang beragama Islam.

Hari ini, awal aku masuk kuliah. Aku masuk di jurusan Bahasa Inggris di salah satu universitas negeri. Senang rasanya bisa mendapatkan ilmu baru, pengalaman baru, dan teman baru pastinya. Disini, aku mempunyai dua orang teman baru. Namanya Dinda dan Izza. Mereka adalah teman yang baik, dan juga pintar. Aku berkenalan dengan mereka saat masuk di ruang kuliah. Aku nyaman disini.

Sebulan telah berlalu. Semakin banyak hal yang kudapat disini. Termasuk berkenalan dengan kakak-kakak tingkat yang ada di kampus. Ada satu kakak tingkat, yang saat ini cukup akrab denganku. Namanya kak Adit. Dia pria yang baik, tubuhnya tinggi tegap, wajahnya Indonesia asli banget, dan ganteng pastinya hehe.

Aku kenal dengannya saat aku sedang mendaftar UKM radio. Saat itu ia adalah ketua dari ukm radio. Bisa kebayang bukan bagaimana popularitasnya? Sudah pasti ia adalah seseorang yang cukup terkenal di kampus. Dan saat itu….

“selamat datang di markas ukm radio.” Sapa para anggota dari ukm tersebut dan mereka semua sambil tersenyum kearahku saat aku memasuki ruangannya.

“terima kasih kak.” Aku membalas senyuman mereka. “oh ya, perkenalkan saya Annisa Ryanti dari pendidikan bahasa inggris 2015.” Sambungku.

“hai Annisaaaa…” jawab mereka serempak.

“oh ya, kenalin saya Ovie dari jurusan Teknik Informatika 2014. Oh ya, saya lupa kamu mau daftar yaa. Sebentar saya ambil formulirnya dulu yaa.” Kata kak Ovie salah satu anggota dari ukm itu.

“ baik, kak.” Jawabku sambil tersenyum kearahnya.


Sementara aku menunggu, tiba-tiba seseorang datang dengan muka yang lelah. Sepertinya ia habis berlari. Tapi orang itu, malah bikin salah fokus. Ganteng bangeeet hehe.

“weh bro, kenapa lo kaya dikejar kejar gitu?” tanya kak Ryan kepada lelaki itu.

“iya nih bro, gue kan gak mau ngecewain kalian karena gue telat. Masa ketua nya malah telat dibanding sama anggota nya hahaha.” Jawab lelaki itu dengan santai.


Huaaa ternyata lelaki itu adalah ketua ukm. Wah bisa-bisa aku salah fokus terus nih kalo sering-sering ketemu dia. Hihi. Tak lama kemudian, kak Ovie kembali dengan membawa formulir ukm.

“nih Annisa, kamu isi ya formulir ini. Habis itu kamu wawancara dengan kak Adit.” Kata kak Ovie.

“oh iya kak. Hmm kak Adit itu yang mana ya kak?” tanyaku.

“oh kamu belum dikenalin ya tadi? Kak Adit itu ketua ukm radio ini yang tadi baru dateng.” Jawab kak Ovie sambil tersenyum.


*DEG* matilah aku harus wawancara sama dia. Bisa-bisa jawaban aku ngelantur mulu ini mah kalo dia yang jadi penanya aku. Aduh gimana ya? namun dengan hati yang deg degan tidak karuan itu aku membalas perkataan kak Ovie.

“oh emm baik kak. Saya isi formulir ini dulu yaa.” Jawabku.


Setelah selesai, aku menyerahkan formulir itu kepada kak Ovie. Selanjutnya aku disuruh untuk menemui kak Adit. Dengan hati yang masih tidak karuan ini, aku menemuinya di ruang ketua ukm….

“Assalamu’alaikum kak, selamat siang..” sapaku.

“wa’alaikumsalam. Mari masuk.” Jawabnya dengan lembut dan tersenyum.


Dengan langkah perlahan aku memasuki ruangannya. Sungguh, aku tidak fokus karena melihat senyuman manisnya.. subhanallah..

“silahkan duduk.” Sambungnya.

“terima kasih kak.” Jawabku.

“oh ya, sebelumnya bisa perkenalkan diri kamu?” tanyanya.

“oh eh iya kak, nama saya Annisa Ryanti. Biasa dipanggil Annisa. Saya dari pendidikan bahasa inggris 2015.” Jawabku dengan sangat nervous.

“ohh Annisa. Eh saya panggil Ri aja, boleh?” sambungnya.

“eh, emm iya boleh terserah kak Adit aja hehe.” Jawabku sambil tersipu malu.

“oh kamu udah tau nama saya ya, padahal saya baru saja mau perkenalkan diri hehe.” Balas kak Adit.

“yaa kenal atuh kak, kan kakak-kakak di depan tadi udah pada ngasih tau saya.” Jawabku dengan pelan.

“hmm iya juga sih, tapi saya perkenalkan diri lagi ya. gapapa kan? Hehe. Nama saya Muhammad Aditya, saya dari jurusan teknik mesin angkatan 2012.” Sambung kak Adit sambil tersenyum kearahku.


Duhh kak Adit jangan sering-sering senyum kearah aku kenapa sih, bikin meleleh ini yaampun. Jangan liat kearahnya Annisa ya, jangan…

Setelah itu, aku menjalani proses wawancara yang berlangsung selama kurang lebih 30 menit. Selama itu, aku sudah tidak merasakan gugup lagi. Alhamdulillah wawancaraku berjalan lancar.

“oke, terima kasih ya Ri sudah ikut ukm. Selamat bergabung dengan kami.” Kata kak Adit setelah selesai wawancara.

“oh iya sama-sama kak. Semoga saya dan kakak-kakak disini bisa berteman baik, dan kakak-kakak tidak lelah dalam mengajari saya ya hehe.” Jawabku.

“pasti Ri, disini kita sama-sama belajar kok.” Sambung kak Adit dengan tersenyum.


Aaaah dia selalu tersenyum. Senyuman itu yang selalu buat aku terenyuh. Kak Adit, murah senyum banget sih…

Hari terus berlanjut. Aku menjalani aktivitas ku di kampus. Kuliah, dan menjalani ukm. Oh ya, di ukm radio ini aku diberi tugas untuk menjadi penyiar loh hehe.

“hallo selamat siang semuanya. Wah kalian lagi pada apa nih? Makan, ngerjain tugas, atau gak jelas lagi ngapain? Hehe. Sambil menemani siangmu, yuk dengerin dan tetap stay tune bersama gue Annisa di 80.2 FM radionya mahasiswa. Untuk awali siang ini, gue punya lagu-lagu yang udah siap diputerin nih untuk kalian. Yuk mari listen to the first song..”

Siang itu, aku memutarkan lagu Adera-lebih indah. Entah kenapa aku memilih lagu itu. Mungkin karena aku lagi bahagia hari ini hehe.

Hari-hari terus berlalu. Begitulah rutinitasku di kampus. Kuliah, menyiarkan radio, tugas, dan kumpul bersama teman. Termasuk kumpul dengan kak Adit dan teman-temannya, hehe. Rutinitasku di ukm radio ini membuatku sering berbincang dengan kak Adit. Kita sering curhat-curhatan, dan sering main bersama di kampus.

Hingga sampailah saat ini, saat dimana liburan telah tiba. Waah inilah momen yang paling ditunggu oleh semua mahasiswa tentunya. Banyak temanku yang pada merantau, sudah pada pulang ke daerah asalnya. Berbeda denganku. Aku bukan anak perantau, karena pada dasarnya aku ini sangat anak mama. Hehe yaa maklum, perempuan kan. Rumahku tidak terlalu jauh dari kampus. Hanya berkisar jarak kurang lebih 5km. seperti biasa, liburan aku habiskan dirumah. Aku memang kurang suka bepergian sih, apalagi kalau tidak ada teman. Hmmm.. namun saat itu terdengar suara ponselku berbunyi. Tumben, siapa yang menelponku? Ternyata kak Adit!

“hallo assalamu’alaikum.” Terdengar suara kak Adit dari sana.

“wa’alaikumsalam.. kak Adit, ada apa? Tumben telpon?” tanyaku.

“yaa gak apa sih, gak boleh ya gue telpon Ri?”

“hmm boleh ko kak, cuma tumben aja gitu hehe.”

“hmm lagi sibuk gak? Jalan-jalan yuk, Ri?”

“ehmm engga juga sih kak. Jalan-jalan? Kemana?”

“yaa kemana kek, gue lagi bete nih dirumah.”

“oh gitu, ehm yaudah kak boleh. Mau kapan?”

“yey asik nih. Hari ini abis dzuhur ya gue jemput.”

“ah? Eh kak gausah jemput, ngerepotin atuh. Lagian kakak emang tau rumah Ri?”

“engga sih hehe, yaudah kalo gitu ketemu dimana dong?”

“di depan kampus aja kak, gimana?”

“oh oke deh abis dzuhur ya. gue tunggu.”

“oke kak.”

“assalamu’alaikum.”

“wa’alaikumsalam…”

Telepon terhenti. Entah kenapa hatiku seketika jadi berdebar debar gini. Selalu saja, kalau berhubungan dengan kak Adit selalu begini. Ia mudah sekali untuk membuatku terlena dengan kelakuannya. Hmm.

2 jam berlalu. Setelah sholat dzuhur, aku langsung bersiap-siap untuk berangkat. Aku hanya mengenakan t-shirt putih dengan rok levis dan kerudung warna biru muda. Aku memang tidak terlalu memperhatikan penampilanku. Yang penting, aku rapi. Itu sudah cukup bagiku hehe. Aku juga bukan perempuan yang suka dandan. Padahal seringkali teman-temanku nyuruh aku untuk dandan. Tapi aaah ribet, aku bukan tipe cewe yang senang berlama-lama dandan. Aku tidak suka ribet!

Lalu setelah mengendarai sepeda motor selama 20 menit, sampailah aku di depan kampus. Dan sudah ada kak Adit disana.

“assalamu’alaikum kak, maaf ya kak nunggu. Udah lama ya disini?” sapaku dengan rasa tak enak hati.

“wa’alaikumsalam. Engga ko gak apa. Baru 5 menit disini.” Jawab kak Adit dengan nada lembut dan senyum yang selalu sumringah. “oh ya, kita ke taman asri yuk.” Ajaknya.

“boleh.” Jawabku sambil tersenyum kearahnya.


Hari itu kita pergi ke taman asri. Aku belum pernah kesini sebelumnya. Tapi ternyata taman ini indah banget. Bunga-bunganya bermekaran indah, seperti hati yang sedang dilanda rasa cinta hehe.

“yuk kita duduk disini.” Ajak kak Adit. “gimana Ri? Indah kan?” sambungnya.

“indah kak, banget. Ri suka disini. Sejuk juga walaupun siang karena banyak pohon yang rindang juga.” Jawabku.

“gue suka kesini kalo gue lagi ngerasa gak mood. Tapi sekarang gue kesini sama lo.” katanya dengan lembut.

“taman itu emang bikin hati kita damai kak. Makanya Ri suka ke taman, lihat bunga-bunga. Terkadang ada pohon juga, seperti pohon itu tuh kak. Lihat deh. Pohon itu ada di tengah-tengah ribuan bunga. Ri pengen seperti pohon itu. Walaupun ia sendiri tapi ia tetap berdiri tegak diantara ribuan bunga.”

“widihhh, puitis juga lo Ri. Hahaha.”

“eh engga kak, maaf jadi ngelantur deh ngomongnya hehe.”

“gapapa lagi. gue seneng sama orang yang suka buat kata-kata indah kaya gitu. Gue emang gak suka nulis gituan, tapi gue suka baca-baca itu.”

“hmm awalnya Ri juga suka baca-baca kak, tapi terkadang kalo mood Ri lagi ada, Ri tuangin lewat tulisan aja hehe.”

“bagus dong.. hehe.”


2 jam telah berlalu. Kami habiskan waktu dengan banyak bercerita. Sudah cukup banyak aku tahu tentang kak Adit. Ternyata ia tidak hanya ganteng, baik, pintar, dan popular. Tapi ia juga merupakan salah satu mahasiswa yang berprestasi di bidang akademik loh dan ia juga sangat sayang dengan orang tuanya, terutama ibunya. Oh my God, wanita mana yang tidak jatuh cinta padanya. Tetapi yang aku tahu, ia belum memiliki pacar sampai saat ini.

Namun ketika aku sedang asyik berbincang dengannya, tiba-tiba aku merasakan sakit yang amat sangat di kepalaku. Entah kenapa, aku belum pernah merasakan sakit yang teramat sangat seperti ini, ya Allah..

“Ri, kenapa? Muka Ri ko pucat banget? Ri sakit? Duh, yaudah kita pulang ya. gue anterin sampe rumah.” Kata kak Adit dengan khawatir sambil memopong tubuhku yang sangat lemas itu.

“tapi kak, Ri kan bawa motor sendiri. Gausah dianter kak, gapapa ko. Ini pusing aja nanti juga ilang pusingnya.” Jawabku untuk menenangkannya.

“engga, pokoknya gue anter lu pulang. Gapapa, lu bawa motor biar gue jagain dari belakang sekalian biar gue tahu rumah lu ya.”


Saat itu, aku tidak bisa menolak perkataan kak Adit. Memang sebenarnya aku juga takut kalau harus pulang sendiri naik motor dengan keadaan seperti itu. Setelah kurang lebih 40 menit, sampailah aku dirumah. Kak Adit dengan sigap langsung memopongku lagi hingga aku sampai di depan pintu rumah dan ibuku membukanya.

*tok *tok *tok *tok

“assalamu’alaikum…” kata kak Adit.

“wa’alaikumsalam. Eh Annisa, kamu kenapa sayang? Muka kamu pucat banget ya Allah.” Dengan spontan ibuku memopongku. “eh nak, siapa ya?” tanya ibuku kepada kak Adit.

“oh ya bu, saya Adit kakak kelasnya Annisa di kampus. Tadi saya sedang main dengan Annisa di taman, terus tiba-tiba Annisa kesakitan gitu pegang kepalanya. Makanya saya langsung antar dia pulang.” Jawab kak Adit sambil salim kepada ibuku.

“oh gitu, terima kasih ya nak sudah antar Annisa pulang.” Sambung ibuku.

“iya bu, sama-sama. saya pulang dulu ya bu. Ri, cepet sembuh yaa. Assalamu’alaikum.” Pamit kak Adit kepadaku dan ibuku.

“iya nak hati-hati ya, wa’alaikumsalam.” Jawab ibuku.

“iya kak, makasih ya udah anter Ri. Wa’alaikumsalam.” Sambungku dengan suara yang lemah.


Setelah itu, kak Adit berlalu dengan motornya. Ibuku langsung membawaku ke kamar. Dengan perasaan yang sangat khawatir ibuku membuat kompresan untukku.

“bu, Annisa udah gapapa ko. Ibu istirahat aja ya. Annisa gak mau ibu sampe kecapean gara-gara ngerawat Annisa.” kataku.

“engga, ibu gak apa kok sayang. Tapi badanmu Alhamdulillah udah turun panasnya.” Jawab ibuku sambil memegang dahiku.


3 hari berlalu. Namun rasa sakit di kepalaku tak kunjung hilang. Aku merasa ada keanehan disini. Entah apa yang membuat rasa sakit ini tidak hilang dari kepalaku. Hingga akhirnya orang tuaku membawaku ke rumah sakit. Setelah menjalani pemeriksaan dan melakukan rontgen kepalaku, orang tuaku berbicara serius dengan dokter yang menanganiku. Namun saat itu, aku tak sengaja mendengarnya.

“apa dok? Anak saya…” kata ibuku sambil menahan air matanya yang sudah terbendung.

“iya, anak ibu mengalami kanker otak stadium 1. Ia masih bisa menjalani kemoterapi untuk menghambat penyebaran sel kankernya. Dan bisa juga menjalani pengobatan dengan operasi di otaknya.” Kata dokter yang menanganiku.


Ya Allah, apa aku tak salah dengar? Aku… aku menderita penyakit yang berbahaya. Aku tak menyangka hal ini bisa terjadi padaku, ya Allah. Aku tahu Engkau maha penyayang. Aku tahu Engkau sangat menyayangiku, sehingga Engkau mengujiku dengan cara seperti ini. Kuatkan aku ya Allah. Engkau adalah sebaik-baik penolong untukku.

5 hari berlalu. Aku mulai menjalani kemoterapi di rumah sakit. aku harus kuat, ya harus. Aku tidak boleh menyerah pada keadaan ini. Aku pasti bisa sembuh! Memang tak mudah menjalaninya, namun aku yakin tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.

Hari-hari terus berlalu. Sejak kejadian di taman asri pada hari itu, kak Adit setiap hari menghubungiku. Namun tak pernah aku angkat telepon darinya. sebenarnya aku tak bermaksud membuatnya khawatir denganku, namun aku tak mau dia tahu bahwa aku mengidap penyakit ini. Sampai akhirnya, ia berkunjung kerumahku untuk mengetahui kabarku.

*tok *tok *tok *tok

“assalamu’alaikum…” salam kak Adit.

“wa’alaikumsalam. Eh nak Adit, ya? benar kah? Apa ibu salah?” jawab ibuku.

“iya bu, saya Adit. Apa kabar bu?” balas kak Adit sambil salim kepada ibuku.

“Alhamdulillah baik, nak Adit sendiri gimana? Oh ya masuk yuk nak.” Ajak ibuku kepada kak Adit untuk masuk ke dalam rumah.

“oh iya, bu terima kasih.” Jawab kak Adit dengan santun. “Alhamdulillah saya baik juga bu.. oh ya bu, Annisa nya ada? Annisa apa kabar bu? Udah seminggu ini saya hubungi dia tapi ga pernah dijawab kok ya..” sambung kak Adit.

“Annisa… ehm Annisa gak ada disini nak.” Jawab ibuku dengan raut wajah yang sedih.

“gak ada bu? Loh lalu Annisa ada dimana sekarang bu?” balas kak Adit dengan penasaran dan khawatir.

“Annisa.. ehm Annisa.. dia sekarang di rumah sakit, nak.” Kata ibuku sambil menundukkan pandangannya.

“hah? Apa bu? Di rumah sakit?” sambung kak Adit dengan spontan. “ehm dia disana ngapain bu? Dia sakit? sakit apa?” sambungnya.

“nanti kamu juga tahu nak. Ibu gak bisa ngejelasin ke kamu ya, maaf. Kalo kamu mau tengok Annisa, dia ada di rumah sakit Harapan Kasih di ruang cemara lantai 2.” lirih ibuku.

“baik, bu. Kalo gitu saya permisi ya bu. Saya kerumah sakit sekarang. Assalamu’alaikum.” Pamit kak Adit.

“hati-hati ya nak, ibu titip Annisa sebentar. Ibu mau beresin rumah dulu soalnya. Wa’alaikumsalam.” Jawab ibuku.

Setelah itu, kak Adit langsung bergegas untuk kerumah sakit. 20 menit berlalu hingga akhirnya kak Adit sampai. Ia langsung menemuiku di kamar. Saat itu, aku sedang berbaring dan mencoba untuk mengambil minum yang ada di meja sebelahku. Namun saat itu…

“eh eh eh..”

Gelasku terjatuh, namun tiba-tiba..

“Ri, hati-hati dong. Untung ada gue, kalo enggak ini gelas udah pecah berkeping keping kali.” Ledeknya.


Kak Adit! Aku terkejut akan kehadirannya. Entah aku harus senang atau sedih. Namun yang pasti kehadirannya membuatku tersenyum. Ia datang dengan senyumannya yang selalu manis. Ia selalu menghiburku. Tanpa kusadari air mataku jatuh saat itu juga.

“loh.. kenapa sih itu nangis? Ri gak suka kalo kak Adit dateng kesini? Yaudah kak Adit pulang deh…” katanya sambil memasangkan muka cemberut kepadaku.

“kaak..” jawabku sambil menarik tangannya. “kok baru dateng udah pergi lagi? emang gak cape?” sambungku sambil tersenyum padanya.

“abisnya percuma dong kak Adit kesini tapi Ri malah nangis.. senyum dong, kan senyum itu ibadah.” Kata kak Adit sambil membuat senyum di wajahku dengan tangannya.

“ihh kak Adit apaasih. Hehehe. Duduk kak.” Sambungku.

“Ri, pake apaan sih ini banyak selang gini. Ri cepet pulang dong. Ri gak mau emang main ke taman lagi sama kak Adit? Bunga-bunga sama pohon di taman rindu sama Ri tuh..”

“hehehe. Ini alat buat Ri nafas kak. Kalo gak pake nanti Ri gak bisa cepet pulang dong.”

“Ri, seminggu ini kamu kemana? Aku hubungin kok gak pernah dijawab. Ri seneng ya bikin kak Adit khawatir dari hari itu?”

“engga kak. Ri gak bermaksud gitu. Maafin Ri ya kak.”

“ya jawab dulu kenapa..”

“Ri gak mau ngerepotin kak Adit. Ri gak mau kalo kak Adit tau kalo Ri sakit..”

“Ri, kak Adit sayang sama Ri. Kak Adit gak mau Ri kenapa-kenapa.”

“Ri gak apa kok kak..” kataku sambil tersenyum. “kak, kalo misalnya nanti Ri gak bisa nyiarin radio lagi, gimana?” sambungku dengan suara yang pelan.

“ihhh Ri, kamu ngomong apa sih? Liburan masih ada 20 hari lagi. Ri pasti sembuh nanti, bisa nyiarin radio kampus lagi pas masuk kuliah ya..” jawabnya dengan menenangkanku.


Namun tiba-tiba aku merasa sangat mual. Dan aku muntah saat itu, di hadapan kak Adit.

“Ri.. Ri kenapa? Ya Allah.” Kata kak Adit dengan panik sambil membantuku untuk kembali tidur di kasur, dan mengelap bekas muntahan yang ada di mulutku. “sebentar ya, kak Adit panggil dokter.” Sambungnya sambil berlalu dari hadapanku untuk memanggil dokter.


Tak lama kemudian, dokter datang dan langsung memeriksaku. Aku kembali ngedrop.

“sel kanker nya sudah mulai menyebar lagi, jika tak segera dilakukan operasi maka kemungkinan untuk sembuh akan semakin sulit.” Kata dokter yang menanganiku.

“astagfirullah.. iya baik dok, insya Allah secepatnya saya akan mengusahakan agar Annisa bisa dioperasi.” Jawab kak Adit.

Aku yang mendengarnya dengan samar-samar, hanya bisa kembali menitikkan air mata. Ya Allah, jika memang ini jalanku untuk segera menghadapMu aku ikhlas…


Sementara itu, saat ibuku sedang membereskan rumah tiba-tiba ada seseorang yang datang kerumahku dan bertemu dengan ibu.

*tok *tok *tok *tok

“assalamu’alaikum, bu..” sapanya sambil salim dengan ibuku.

“wa’alaikumsalam.. eh, ini nak Rizky bukan?” balas ibuku sambil menatapnya dari atas sampai bawah. “yuk mari masuk, nak.” Ajak ibuku kepada Rizky, dan ia mengikutinya.


Rizky! Iya dia adalah Rizky. Lelaki yang pernah menjadi pacarku ketika masih di bangku SMA. Dia lelaki yang dulu menyakitiku karena perbuatannya. Dia ternyata memiliki pacar lain selain aku. Kau tahu rasanya jika menjadi sepertiku bukan? Namun saat ini tiba-tiba dia kembali, dia datang kerumahku. Untuk apa? Entahlah.


“iya, bu.. saya Rizky. Ibu masih ingat sama saya. Hehe. Apa kabar bu?” tanyanya.

“Alhamdulillah, baik. Nak Rizky sendiri apa kabar? Udah lama ya gak ketemu.”

“Alhamdulillah baik juga, bu. Iya saya sedang sibuk kerja, bu. Hehehe. Baru sempat main kesini.”

“owalah.. kerja toh sekarang, enak dong ya..”

“yaa Alhamdulillah, bu.. hehehe.. oh ya bu, Annisa apa kabar ya?”


Seketika ibuku kembali bersedih dan menundukkan pandangannya.

“bu, ibu kenapa?” tanyanya dengan heran.

“oh engga, ibu gak apa kok.” Jawab ibuku dengan mengusap air mata yang sudah hampir jatuh di pipinya. “Annisa baik kok, nak.” Sambungnya.

“oh syukurlah kalo gitu. Hmm sekarang Annisa nya dimana ya, bu? Kok gak keliatan ya daritadi hehehe.” Tanyanya lagi sambil celingak celinguk melihat di sekitar ruangan rumahku.

“ehm, Annisa.. dia.. di rumah sakit, nak.” Jawab ibuku dengan terbata-bata.

“apa bu? Di rumah sakit? kok dia disana bu? Ngapain?”

“iya, Annisa sakit nak. Kanker otak stadium 1.”

“innalillahi.. terus sekarang dia ada di rumah sakit mana bu?”

“rumah sakit Harapan Kasih, nak. Tapi kamu gak perlu kesana sekarang, karena ada nak Adit yang sedang menjaganya disana.”

“ohh, ehm gitu ya bu. Adit itu siapa ya bu?” tanya Rizky dengan penasaran dan wajah yang menunjukkan jika ia merasa tak suka.

“nak Adit itu kakak kelas Annisa di kampus.”

“oh gitu ya, bu.. kalo gitu ibu punya nomor handphone nya gak? Saya mau tanya kabar Annisa lewat dia saja, bu.”

“ada, nak sebentar yaa..”


Setelah itu, ibuku memberikan nomor handphone kak Adit kepada Rizky. Aku tak tahu mengapa Rizky memintanya. Hmm. Lalu setelah diberikan nomor handphone kak Adit, Rizky langsung berpamitan kepada ibuku.


Hari berikutnya…..

*kriiiing*

“hallo assalamu’alaikum..” jawab kak Adit.

“wa’alaikumsalam.. apa benar ini nomor Adit temannya Annisa?” tanya seseorang diujung suara sana.

“iya benar. Maaf ini dengan siapa ya?” tanya kak Adit.

“gue Rizky, teman dekat Annisa waktu SMA. Bisa kita ketemu? Ada hal yang mau gue tanyain sama lo. kita ketemu di halaman depan kampus lo ya siang ini jam 2. Gue tunggu. Assalamu’alaikum.” Jawabnya dengan tegas dan langsung mematikan handphone nya.

“eh, tunggu…” belum sempat kak Adit bertanya maksudnya, namun sudah terlanjur dimatikan teleponnya. “wa’alaikumsalam..”


Kak Adit bingung dengan lelaki itu. Dia siapa? Teman SMA Annisa, lalu mau apa dia bertemu dengannya?

Namun siang itu kak Adit memenuhi perkataan Rizky. Sesampainya kak Adit disana, sudah ada Rizky yang menunggunya.

“ehm, hey lo ini Rizky kah?” sapa kak Adit sambil memegang bahunya.

“oh, iya. Lo Adit?” tanyanya. “oke, silakan duduk.” Sambungnya dengan mempersilahkan kak Adit duduk.

“thanks..” jawab kak Adit. “btw, ada apa lo nyuruh gue ketemu sama lo?” sambungnya.

“lo.. kakak kelasnya Annisa di kampus?” tanya Rizky dengan wajah sinis.

“iyaa. Kenapa ya?” jawab kak Adit dengan bingung.

“gue Rizky. Temen deket sekaligus mantan Annisa waktu SMA.” Kata Rizky sambil mengulurkan tangannya ke arah kak Adit dan dibalas uluran tangan dari kak Adit. “gue mau tanya, lo ada hubungan apa sama Annisa?” sambungnya.

“oh Ri, eh Annisa itu gue anggep sebagai adek gue sendiri. Kenapa?”

“lo bukan pacarnya? Lo sayang sama dia?”

“engga, gue bukan pacarnya. Tapi gue sayang Annisa.”

“hooh.. gue boleh minta sesuatu?” tanya Rizky dengan nada yang agak melembut. “tolong, lo jauhin Annisa. gue pengen Annisa bisa sama gue lagi. biar gue yang jagain dia.” Sambungnya.

“kenapa gue harus menjauh dari dia?”

“karena gue gak mau Annisa lebih milih lo daripada gue.”


Setelah berpikir sejenak, akhirnya kak Adit menjawab perkataan Rizky.

“oke, gue akan menjauh dan membiarkan lo deketin Annisa. tapi gue minta satu hal sama lo, tolong lo jagain Annisa dengan baik. Dia wanita baik, dia kuat, dia gak mudah menyerah. Gue yakin dia bisa sembuh melawan penyakitnya. Lo janji?” tanya kak Adit.

“iya, gue janji. Thanks ya, bro.” jawab Rizky.


Setelah kejadian itu, pertemuan mereka membuat kak Adit menjauh dariku. Ia tak pernah lagi menjengukku. Tak pernah lagi menjagaku. Aku bingung, sekaligus khawatir. Ada apa dengan kak Adit? Kenapa dia tiba-tiba menghilang begitu saja?

Keesokan harinya…

*tok *tok *tok *tok

Seseorang mengetuk pintu kamarku di rumah sakit. siapa ya? ah pasti itu kak Adit.

“iya, masuk..” kataku kepada seseorang diluar pintu itu.

Lalu orang itu membuka pintunya, dan ternyata….

“assalamu’alaikum, Annisa..” sapanya dengan tersenyum kepadaku.

Orang itu adalah Rizky! Kenapa ada dia disini? Kenapa bukan kak Adit? Kak Adit kemana? Aku mau kak Adit, bukan Rizky.

“wa’alaikumsalam.. Rizky.. lo kok ada disini? Tau gue darimana?” tanyaku.

“iya dong gue tau, kan gue kerumah lo. gue kangen lo, udah 6 bulan kita gak ketemu. Eh ternyata lo ada disini kata ibu lo.” jawabnya sambil memberikan se bouquet bunga untukku.

“makasih..” jawabku singkat.

“lo baik-baik aja kan Nis? Gue khawatir dengan keadaan lo kaya gini. Gue janji gue bakal temenin lo terus sampe lo sembuh, ya?”

“ehm gak usah.. gue bisa sendiri kok. Gue gak apa. Mendingan lo pulang aja, gue juga mau istirahat.”

“yah, Nis.. gue baru aja ketemu lo. tapi, yaudah deh gak apa. Lo istirahat aja. Lo baik-baik ya disini, semoga lekas sembuh. Kalo lo perlu apa-apa telepon gue aja ya. Gue balik dulu. Besok gue kesini lagi ok. Assalamu’alaikum.” Pamitnya.

“wa’alaikumsalam.” Jawabku.


Sejak hari itu, setiap hari setiap Rizky pulang kerja, dia selalu menemuiku di rumah sakit. dia menjagaku, dia menemaniku saat kemoterapi. Tapi aku tidak butuh dia, aku butuh kak Adit. Bukan Rizky. Kak Adit kemana?

“bu, kak Adit kemana sih bu? Kok sudah seminggu ini gak ada kabarnya? Kok dia tiba-tiba hilang gitu aja….” Tanyaku dengan nada lemas.

“ibu juga gak tau sayang. Mungkin dia sibuk. Lagipula kan ada Rizky yang nemenin kamu disini kalo ibu pulang..” jawab ibuku sambil mengusap kepalaku.

“tapi aku gak mau ditemenin Rizky, bu. Aku maunya kak Adit.”

“sabar sayang, nanti juga kalo kak Adit gak sibuk dia nemenin kamu lagi disini.”


10 hari kemudian, keadaanku semakin melemah. Ya Allah aku harus menjalani kemoterapi berapa lama lagi? kapan aku bisa sembuh kembali seperti sediakala?

Aku rindu kak Adit. Sudah berhari-hari aku tanya kabarnya namun tidak ada balasan. Hingga akhirnya hari itu, kucoba telepon lagi ke nomornya. Dan ternyata diangkat!

“hallo assalamu’alaikum.. kak Adit..” sapaku dengan suara yang melemah.

“wa’alaikumsalam, Ri? Ada apa?” jawab kak Adit.

“kak Adit kemana aja? Kok Ri sms, bbm, telepon, gak pernah dijawab? Kak Adit lupa sama Ri ya? kak Adit ngerasa kerepotan ya nemenin Ri?”

“ya ampun, enggak Ri.. kak Adit lagi ada kerjaan aja nih. Makanya gak sempet nemenin Ri lagi. lagipula ada Rizky kan yang nemenin Ri? Gak kesepian dong? Rizky sama kak Adit sama aja kan?”


Rizky.. kok kak Adit bisa tau Rizky? Tau darimana? Atau jangan-jangan…

“Ri mau kak Adit disini, bukan Rizky. Tapi kok kak Adit tau Rizky? Tau darimana? Jangan-jangan Rizky yang nyuruh kak Adit buat gak deket-deket sama Ri lagi?”

“eh, ehm enggak Ri. Kak Adit tau dari… ehm dari ibunya Ri.”

“bohong. Kak Adit bohong. Ri gak mau lagi temenan sama kak Adit. Oke, Ri bakal buktiin kalo Ri juga bisa tanpa kak Adit apalagi Rizky. Ri bisa sendiri buat sembuh.” Jawabku dengan air mata yang sudah tergelinang di pipi.


Hari itu, aku putuskan untuk berjuang sendiri melawan penyakitku. Meskipun Rizky selalu datang, namun aku tak pernah menghiraukannya.

Saat itu, tiba-tiba Rizky kembali menghubungi kak Adit. Dia meminta untuk bertemu dengan kak Adit lagi di halaman kampus.

“hey bro, ada apa?” tanya kak Adit.

“gue nyerah. Keliatannya Annisa udah gak mau lagi sama gue. Perhatian gue selama ini pun gak pernah ditanggepin sama dia. Gue tau sayang dia itu bukan buat gue. Tapi buat lo.” jawab Rizky dengan pasrah.

“tapi, gue…”

Belum sempat kak Adit menyelesaikan perkataannya, Rizky langsung menyambungnya..

“gue serahin Annisa ke lo lagi. hari sabtu besok dia operasi. Gue harap lo bisa ada disana.” Sambung Rizky dengan memegang bahu kak Adit.

“baik, insya Allah gue akan jaga Annisa. tapi, kalo lo pengen ketemu Annisa, lo boleh dateng kapan aja.” Jawab kak Adit.

“thanks ya bro. gue tau lo cowo yang tepat buat Annisa.”


Pertemuan mereka pun berakhir hari itu.

3 hari berlalu. Hingga akhirnya sampai di hari Sabtu, hari dimana aku harus menjalani operasi.

“bu, doakan Annisa ya semoga operasi Annisa berjalan lancar dan Annisa bisa kembali sehat biar bisa nemenin ibu masak dirumah.” Kataku kepada ibu sambil menangis.

“iya sayang. Ibu selalu mendoakanmu. Berjuang ya sayang, ibu tau kamu kuat.” Jawab ibuku dengan mata yang berlinang.


Kemudian dokter dan suster membawaku ke ruang operasi. 5 menit berlalu, tiba-tiba..

“assalamu’alaikum, bu..” sapa lelaki itu.

“wa’alaikumsalam.. eh nak Adit. Apa kabar? Kok bisa ada disini?” tanya ibuku.


Kak Adit! Dia datang di hari itu. Namun sayangnya, aku tak bisa melihatnya.

“iya bu. Rizky memberitahu saya kalo hari ini Annisa menjalani operasi. Annisa nya dimana bu?” tanya kak Adit.

“Annisa ada di dalam ruang operasi, nak. Doakan ya semoga dia dapat melewati ini semua.”

“aamiin..”


2 jam berlalu. Hingga akhirnya operasiku selesai. Dan dokter keluar dari ruang operasi.

“bagaimana operasinya, dok? Bagaimana keadaan Annisa?” tanya ibuku.

“Alhamdulillah operasinya berjalan lancar. Annisa masih dalam proses pemulihan. Sebaiknya jangan ditemui dahulu ya, bu. Saya permisi.” Kata dokter itu.

“alhamdulillah. Terima kasih dokter.” Jawab ibuku.

“Alhamdulillah, bu. Annisa berhasil melewatinya. Saya tahu Annisa memang wanita kuat dan gak gampang menyerah buat melawan penyakitnya.”

“iya, nak.. berkat dukungan kamu juga dia bisa kuat menghadapinya.” Kata ibuku. “kamu tau? semenjak kehadiran Rizky, dia justru kurang bersemangat. Hingga akhirnya dia meneleponmu dan bilang sama ibu kalo kamu menghilang karena membiarkan Rizky yang mendekati Annisa lagi. tapi sungguh, dia sedih banget pas tau kalo kamu menjauh dari dia karena Rizky. Maka sejak itulah dia jadi bersemangat untuk melawan penyakitnya sendiri tanpa bantuan siapapun selain keluarganya.” Ibuku menjelaskan kepada kak Rizky.

“maafin saya ya bu. Saya gak bermaksud ninggalin Annisa, sungguh.” Sambung kak Adit sambil menundukkan pandangannya dan memegang tangan ibuku.

“sudahlah, gak apa nak. Yang penting sekarang kamu ada disini. Kalo Annisa tau, pasti dia senang.” Kata ibuku sambil tersenyum kepada kak Adit.



Alhamdulillah, akhirnya operasiku berjalan lancar. Aku bisa kembali sehat! Ya Allah sungguh besar karuniaMu untukku.

Keesokan harinya, aku mulai dipindahkan ke ruang rawat inap kembali. meskipun masih dalam keadaan lemah dan memakai infus, setidaknya aku sudah tidak perlu memakai selang oksigen lagi. hari itu aku mulai membuka mataku.

“Alhamdulillah, kamu sudah sadar sayang?” kata ibuku sambil tersenyum.

“ehm, ibu.. aku masih di rumah sakit ya.. kok aku gak pulang sih bu..”

“ihh kamu baru juga melek udah minta pulang.”

“Annisa gak betah bu lama-lama disini. Udah hampir sebulan disini bosen bu.”

“iya, sabar. Besok juga kamu bisa pulang kok sayang.”

“beneran, bu? Alhamdulillah akhirnya aku bisa bebas dari sini….” Kataku dengan antusias dan tersenyum.

“makanya, hari ini kamu harus bener-bener pulih dulu yaa. Makan yang bener jangan susah loh.” Sambung ibuku.

“siaaap, ibuuuu.” Jawabku sambil menirukan gaya hormat kepada ibuku.

Keesokan harinya, aku sangat bersemangat untuk pulang. Meskipun kondisi tubuhku yang masih lemas dan pucat sehingga harus menggunakan kursi roda, tapi aku sudah jauh lebih baik. Lalu setelah semuanya rapi, aku segera didorong untuk keluar kamar oleh ibuku. Namun ketika aku membuka pintu kamar untuk keluar, tiba-tiba….

“assalamu’alaikum. Ada Ri nya gak?” sapa lelaki itu dengan wajahnya yang sengaja ditutupi oleh bouquet bunga.


Aku tahu suara itu, aku kenal siapa orang itu. Satu-satunya orang yang memanggilku dengan sebutan Ri. Ya, dia itu… Kak Adit! Mimpi apa aku semalam, tiba-tiba dia ada disini. Menjemputku dan membawakan bunga yang indah seperti di taman asri. Selalu saja dia datang dengan senyumannya yang indah.

“wa’alaikumsalam.. kak Adit…” dengan antusias aku meraih bunga itu dan memeluk tangannya. “kak Adit kemana aja sih, kok baru dateng pas Ri udah sembuh.” Sambungku dengan raut wajah yang sok sinis kepadanya.

“ih kata siapa? Aku dateng loh, nungguin kamu dan nemenin ibu pas kamu lagi operasi. Tanya aja ibu, wleeee.” Jawabnya dengan meledekku.

“ih ibuuuu, kenapa ibu gak cerita kalo kak Adit dateng pas Annisa operasi?” gerutuku kepada ibu.

“hehe maaf sayang, kan biar surprise kaya sekarang.” Kata ibuku santai dengan mengedipkan matanya kepadaku.

“hmm ibuuu.” Jawabku dengan nada manja.

“yaudah, sekarang kita pulang yuk. Naik mobil saya aja, bu. Kebetulan saya bawa mobil.” Kata kak Adit.

“oh, terima kasih banyak nak.” Kata ibuku.

“iya bu, sama-sama. sini bu, biar saya aja yang bawain tasnya.”


Hmm kak Adit. Dia selalu saja bisa meluluhkan perasaan orang. Orang yang baik sekali. Tak hanya baik kepadaku, namun juga kepada ibu.

40 menit berlalu, sampailah kami di rumah. Namun saat aku hendak turun…

“eh sebentar jangan turun dulu, Ri.” Kak Adit menahanku.

“kenapa?” tanyaku bingung.


Lalu kak Adit tiba-tiba berjalan kearah ibuku.

“bu, maaf sebelumnya. Kalo saya ajak Annisa pergi jalan-jalan sebentar boleh, bu?” izin kak Adit kepada ibuku.

“oh yaa, silahkan. Tapi jangan jauh-jauh dan bikin Annisa cape ya nak.” Jawab ibuku.

“baik, bu. Lagipula kan ada kursi rodanya. Nanti biar dia pakai kursi rodanya bu.” Jelas kak Adit. “kalo gitu saya permisi ya bu. Assalamu’alaikum.” Pamit kak Adit sambil salim kepada ibu.

“hati-hati ya, nak. Wa’alaikumsalam.”


Hari itu, kak Adit mengajakku pergi. aku tak tahu dia membawaku kemana. Dia menutup mataku agar aku tak mengetahuinya.

“yeey udah sampe. Sebentar ya aku ambil kursi roda dulu.” Katanya. “yuk turun, pegang bahuku ya Ri.” Sambungnya dengan menggendongku untuk duduk di kursi roda.

“duhh kak, ini dimana sih…” gerutuku.

“udah diem aja.. nanti juga tau..” kata kak Adit.


Setelah itu dia mendorong kursi rodaku. Membawaku ke tempat yang ia rahasiakan. 3 menit berlalu, akhirnya ia memberhentikan kursi rodaku. Dan membuka penutup mataku.

“udah, sekarang kamu boleh buka mata kamu.” Kata kak Adit sambil tersenyum.


Aku membuka mataku. Dan ternyata….


“kaaak, ini Ri gak mimpi kan?” tanyaku sambil mengucek-ngucek mataku.

“ya enggak lah. Ini beneran.” Jawabnya. “gimana? Suka gak?” sambungnya.


Pemandangan ini sungguh, indah sekali. Kak Adit menghias taman asri itu dengan membuatkan ayunan diantara dua pohon yang terletak di tengah-tengah ribuan bunga. Juga terdapat hiasan bola-bola lampu yang terdapat di sekeliling taman asri. Aku sangat kagum dengan keindahan yang kulihat ini.

“suka kak, banget. Ini semua kakak yang hias?” tanyaku lagi.

“iyaa, kemarin sore aku menghiasnya. Makanya aku gak bisa nemuin kamu kemarin. Maaf yaaa.” Jawabnya sambil jongkok dihadapanku dan tersenyum.

“kaak, ini udah lebih dari cukup buat Ri. Ri gak pernah kepikiran kalo kak Adit bakal ngelakuin ini buat Ri.” Kataku dan tanpa kusadari aku menitikkan air mata.

“sssttt, eh kenapa kok Ri nangis? Iya, ini sebagai permintaan maaf kak Adit juga karena waktu itu kak Adit sempat menghilang dari Ri.” Jelasnya. “jangan nangis lagi yaa Ri.” Sambungnya sambil mengusap air mataku.

“makasih banyak ya kak, Ri sayang sama kak Adit.” Sambungku dan dengan reflek aku memeluknya.

“sama-sama Ri. Kak Adit juga sayang sama Ri, sayang banget.” Jawabnya dengan membalas pelukanku dan mengusap kepalaku.



Itu adalah hari dimana hari yang terindah dalam hidupku. Kak Adit tak hanya hadir disaat aku senang, tetapi ia juga hadir disaat aku susah. Kehadirannya selalu memberikan warna yang indah dalam hidupku. Terima kasih ya Allah, Engkau telah menghadirkan dia untukku. Untuk menemani hariku, dan untuk menemani hidupku.


3 tahun kemudian, kak Adit telah wisuda. Dia telah menjadi sarjana teknik, dan telah mendapatkan pekerjaan sebagai mekanik di suatu perusahaan ternama. Ia pun telah melamarku, dan kau tahu? ia melamarku di tempat yang sangat indah. Di taman asri. Ya, taman yang menjadi tempat favorit aku dan kak Adit untuk menghabiskan waktu ketika sedang tidak mood. Dan setelah aku wisuda, kak Adit segera menikahiku.


Bagiku, tak perlu dia yang sempurna. Cukup dia yang bisa selalu menghadirkan senyuman untukku, dan dia yang selalu ada untukku dalam keadaan apapun. Dia yang sayang denganku, terutama dengan keluargaku. Dia adalah kak Adit. Aku merasa menjadi seorang wanita yang sangat bahagia, karena memiliki suami seperti kak Adit. Semoga ia akan selalu menemaniku sampai akhir hayat nanti.

Begitulah cerita tentang aku, kamu dan taman asri. Taman Asri yang merupakan tempat terindah yang selalu menjadi saksi tentang cerita aku dan kak Adit....