Minggu, 17 Januari 2016

Dhia dan Ferdy (sahabat hidup yang tak bisa bersama)


Prolog

Hai, namaku Dhia. Aku adalah perempuan yang ceria, suka menulis, memasak, membaca, dan belajar. Saat ini, aku sedang bekerja sebagai seorang guru di sekolah formal, juga guru bimbel dan kursus. Aku sangat mencintai profesiku. Sehingga sampai saat ini, aku belum sempat memikirkan untuk menjalin hubungan dengan seseorang. Jika kuingat masa lalu, ada seorang lelaki yang membuat hidupku berwarna, lelaki yang memintaku untuk menjadi sahabat hidupnya. Namun kita tidak ditakdirkan bersama saat itu. Tetapi aku tidak bersedih, karena aku yakin dan aku tahu jika tiba saatnya nanti akan ada seseorang yang datang kepada orang tuaku tanpa aku memintanya. Dan dia adalah ikhwan pilihan Allah untukku.

 

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Mei 2014, hari ini adalah hari pertamaku bekerja. Ya, walaupun sudah bekerja usiaku baru 17 tahun. Aku baru saja lulus dari sekolah menengah atas. Sebagai seorang anak yang baru saja lulus sekolah, pasti memiliki keinginan untuk kuliah. Begitu halnya denganku. Namun, sebelum melanjutkan ke perguruan tinggi, aku memutuskan untuk bekerja di salah satu tempat kursus sebagai guru bahasa inggris. Tetapi, Allah berkata lain, ketika pengumuman perguruan tinggi negeri, tak satupun jalur yang menerimaku untuk bisa berkuliah di universitas yang aku inginkan. Maka dari itu, disitulah awal mula aku terjun ke dunia kerja. Ternyata, dunia kerja pun tak seindah yang kubayangkan. Banyak sekali rintangan yang aku hadapi. Masalah teman, dan bos ku pun sudah biasa aku hadapi. Yang terpenting ialah tetap jalani dengan sepenuh hati dengan apa yang sudah aku pilih.

Dalam perjalanan ini, aku tidak sendiri. Aku mempunyai seorang teman lelaki, namanya Ferdy. Kami satu angkatan, namun kami bersekolah di tempat yang berbeda. Meski begitu, kami suka kirim-kirim message melalui bbm atau sosmed yang lain. Hingga akhirnya kami menjadi teman yang dekat.

Sebulan telah berlalu, namun Ferdy belum juga mendapatkan pekerjaan. Ia telah mengikuti program magang kerja ke luar negeri, namun Allah belum mengizinkannya. Ia juga telah mengirimkan lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan. Hingga saat itu, saat bulan ramadhan tiba, ia memberitahuku bahwa ia diterima di salah satu perusahaan. Alhamdulillah, sebagai seorang teman aku ikut senang mendengarnya. Ia memberitahu bahwa ia akan mulai bekerja pada bulan Agustus.

Lalu sampailah waktu pada malam takbiran, ia mengajakku untuk pergi. dan dimalam itu, ia menyatakan sesuatu yang tak kuduga sebelumnya. Sesuatu yang selama ini pun aku rasa beda.

“Dhia, gue mau ngomong sama lu….” Katanya.

“yaelah Di, lo kaya baru kenal gue aja sih. Mau ngomong apa? Ngomong aja lagi.” sambungku.

“hmm gini, kita kan udah lumayan lama kenal ya.. udah deket juga.. gue mau kita ini lebih dari sekedar sahabat… gue mau lo jadi sahabat hidup gue….”

*DEG* seketika hatiku berdegup kencang tak karuan. Apa yang Ferdy bilang tidak terpikirkan olehku sebelumnya. Lantas aku harus jawab apaa? Apa aku terima saja dia? Selama ini juga kita memang berteman baik.. tapi….

“hmm gue bingung nih mau jawab apa…” kataku.

“yaudah, lo jawab aja. Gue terima kok apapun jawaban lo.” Balasnya.

Aku semakin bingung dengan keadaan seperti ini. Namun kuputuskan…..

“eng… lo emang bener sayang sama gue? Lo yakin mau jadiin gue…..”

“iyaa Dhia. Ngapain gue bohong, kalo gue bohong kan nanti hidung gue jadi panjang.”

“yeee, itu hidung lo panjang. Berarti lo bohong ye kan hahaha.”

“oh iyaya. Ehh ini mah mancung bukan panjang. Ah dasar peseeek.” geramnya sambil menekan hidungku.

“ah sakit Di. Rese lo maah..” kataku sambil merengek.

“iyaiya sorry..” katanya sambil mengusap hidungku. “jadi, gimana jawabannya?” sambungnya lagi.

“hmm, okedeh. Gue….. mau.” Kataku dengan pelan.

“mau apa nih?” tanyanya.

“mau muntah. Hahahahaaa” ledekku sambil pergi menjauh dari hadapannya.

“heyy dasar peseeeek.” Teriaknya sambil mengejarku.

Entah mengapa pada malam itu, aku merasa sangat senang. Aku bahagia sekali, padahal kami pun tidak baru sekali bertemu. Namun tetap saja berbeda. Ya, malam itu aku menerimanya sebagai pasanganku.

Hari-hari pun terus berlalu. Hari demi hari, bulan demi bulan pun terlewati. Kami menjalaninya bersama-sama sebagai sepasang kekasih. Kami pun berbeda dengan pasangan yang lain, kami menjalani hubungan long distance relationship atau biasa disebut ldr. Jadi, kami hanya bertemu satu kali dalam sebulan atau bahkan dua bulan. Ya karena kami berdua sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing. Selama beberapa bulan ini kami baik-baik saja. Hingga pada saat itu…..

“Dhia, maaf ya gue ga sempet ngabarin lo. Gue tadi pulang kerja langsung main futsal terus nongkrong sama temen-temen gue.” Katanya dalam pesan bbm.

“ohh, iya gpp.” Balasku singkat.

“lo kenapa sih? Marah sama gue?” balasnya.

“gak gue gapapa.”

Sejak saat itulah kami seringkali bertengkar. Ya, bertengkar dalam hal-hal yang sepele. Karena semenjak ia bekerja beberapa bulan ini, ia sangat sibuk. Ia juga sibuk dengan teman-temannya. Hingga ia lupa denganku. Saat itu, saat hubungan kami berjalan hingga 11 bulan. Kami bertengkar hebat, hingga aku mengeluarkan kata pisah, yang sebelumnya tak pernah ada salah satu diantara kami yang menyebutnya.

“hallo, assalamu’alaikum Dhia.. Dhia, maafin gue ya. Gue emang salah. Gue tau gue jarang ngabarin lo. Tapi gue sayang lo, Dhia. Maafin gue….” Katanya.

“wa’alaikumsalam. Lo ngapain telpon gue? Emang gue siapa lo?” jawabku.

“Dhia, maafin gue. Gue tau lo marah, tapi please jangan diemin gue kaya gini.”

“lo nyadar gak? lo tuh akhir-akhir ini terlalu sibuk sama dunia lo sendiri. Lo tuh jadi kaya gak nganggep gue. Gue tuh kaya gak ada di hidup lo. Kalo emang gue gak penting, yaudah kita udahan aja.” Balasku.

“please, Dhia.. maafin gue. Gue sayang sama lo. gue gak mau udahan. Gue mau kita tetep lanjutin hubungan ini. Kasih gue kesempatan lagi ya buat memperbaiki diri. Please gue mohooon….” Balasnya sambil memohon padaku.

Sambil menarik nafas aku menjawabnya, “oke. Gue kasih lo kesempatan. Tapi kalo lo gak ubah sifat lo, maaf gue gak bisa nerimanya lagi.”

“oke Dhia, gue janji gue bakal perbaiki sifat gue ini. Makasih yaa, Dhia. Gue sayang lo.” sambungnya dengan semangat.

Sejak hari itu, kami masih tetap menjalani hubungan kami. Kami memang tak pernah berdebat atau bertengkar karena perihal orang ketiga. Selalu saja, kami bertengkar hanya karena ia sangat sibuk dengan dunianya sendiri. Waktu itu hubungan kami telah menginjak tahun pertama. Ya, satu tahun bukanlah waktu yang singkat. Dan juga bukan pula waktu yang mudah untuk kami lewati. Tetapi kami masih menjalaninya bersama-sama. Dan pada hari itu, hari satu tahun hubungan kami….

*tok *tok *tok… *tok *tok *tok….

Aku membuka pintu rumahku. Daan…..

“assalamu’alaikum peri cantikku. How are you today?” sapanya sambil tersenyum lebar dan menyodorkan bouquet bunga ke wajahku.

“wa’alaikumsalam. Ihhhh apaansih ini” jawabku sambil menyingkirkan bouquet bunga yang berada di wajahku. “I’m not fine, because you’re in front of me now! Hahahaa” sambungku.

“ihh kok gitu sih. Yaudah deh aku pulang ajaa…” Balasnya sambil pasang muka sedih dan berbalik arah kearah pintu pagar.

“yaelah bro, baper banget sih lo hahaha.” Ledekku sambil menariknya kembali kearahku. “gue bercanda lagi, maaf yaaaaa..” sambungku dengan memasang muka manja.

“isssh siapa yang baper huuu dasar peseeek.” Katanya sambil meledekku dan menekan hidungku.

“ih sakiiit. Rese banget sih.” Kataku sambil mengelus hidungku yang merah karena ditekannya. “oh ya ada angin apa lo hari ini kerumah gue?” sambungku.

“ah elah lo, pesek gendut. Guess what, hari ini ada apa hayo?”

“hmmm…. Hari ini ada lo dirumah gue.”

“lo nyebelin banget sih elah. Gue tendang juga nih.” Katanya kesal.

“hahahaa, sensi amat lo bro. lagi pms?” kataku sambil menjulurkan lidah.

“wahaha somplak lo ah. Serius nih gue. Yaudah dah gue bilang aja. Selamat tanggal 7 yang ke 12 yaa peri cantik gue yang pesek yang gendut yang nyebelin. Gue sayang lo.” katanya sambil tersenyum kearahku dan memberikan bouquet bunga juga kado kecil.

Dengan mata yang berbinar aku pun menjawabnya sambil menerima pemberian dia, “ah gilak, lo so sweet juga ya Di. Hahaa, makasih Ferdy ku yang super nyebelin. Gue juga sayang lo.”

Hari itu kami habiskan sehari bersama. Pergi ke tempat rekreasi yang dekat dengan rumahku. Kami bersenang-senang disana, seakan kami tidak pernah mengalami pertengkaran.

Hari menjelang sore, dan waktunya kami harus pulang. Setibanya aku dirumah…

“makasih ya, Di. Hari ini gue seneng banget.” Kataku sambil tersenyum kearahnya.

“sama-sama, Dhia. Gue juga seneng kok. Semoga kita gak perang dunia lagi yaa.” Balasnya sambil meledekku.

“hahaha bisa aje lo kang urut.” Balasku meledeknya kembali.

“yee dasar kacamata kang urutnya.” Jawabnya sambil menjulurkan lidahnya kearahku.

“rese lo haha.. udah gih sana lo pulang, bentar lagi maghrib loh.”

“oh iya, oke deh. Gue balik dulu ya. Jangan kangen lo sama gue hahaha.” Katanya sambil menjitak kepalaku.

“isssh sakit elah. Pede banget lo jelek hahaha.”

“jelek juga tetep sayang kan lo sama gue. Haha yaudah gue pulang ya, assalamu’alaikum.” Pamitnya kepadaku sambil melambaikan tangannya.

“oke hati-hati yaa. Wa’alaikumsalam.” Jawabku lalu masuk ke dalam rumah.

*5 bulan kemudian*

*tok *tok *tok… *tok *tok *tok….

Aku membukakan pintu, seperti biasa yang datang adalah Ferdy.

“assalamu’alaikum pesek. Sibuk gak? Keluar yuk cari angin.” Ajaknya.

“wa’alaikumsalam. Ih ngapain angin dicari? Masuk angin lo pulang-pulang.” Jawabku sambil meledeknya.

“hahaha bisa aje kang cimol. Bercanda gue elah.”

“apaansih cimolnya. Haha gue juga bercanda jelek. Yaudah yuk, bentar ya gue ambil tas dulu.”

“oke, gue tunggu di depan ya.”

“sip.”

Hari ini kita pergi ke pantai. Cuaca sedang tidak terlalu panas hari ini. Dan suasana di pantai ini cukup menenangkanku.

“gilak anginnya kenceng banget disini, pulang-pulang gue masuk angin beneran ini mah..” kataku sambil memegang lengan-lenganku.

“yah, salah dong gue ngajak lo kesini..” katanya merasa bersalah padaku. “yaudah nih pake jaket gue biar lo gak masuk angin.” Sambungnya.

“ah elo baperan banget sih haha gapapa kok gue.” Balasku sambil menyerahkan jaketnya kembali.

“enggak, udah gapapa lo yang pake aja. Gue mah strong.” Katanya sambil meledekku dan memakaikan jaketnya ke tubuhku.

“haha strong apaan lo. sepik ae duluuu.” Balasku meledeknya kembali.

Hari itu sangat menyenangkan. Seperti biasa kita memang selalu bercanda bersama. Tetapi pada hari itu…

“Di, gue pinjem hape lo dong..” pintaku.

“buat apa deh?” tanyanya.

“ihhh pinjem ajaa. Liat doang masa gak boleh.” Rengekku.

“yaudah iya nih..” balasnya sambil memberikan handphone nya padaku.

Lalu pada saat aku membuka galeri fotonya…

“Di, ini foto perempuan banyak. Foto siapa?” tanyaku.

“eh itu, itu temen deket gue.” Jawabnya dengan sedikit terbata-bata.

“temen deket? Lo gak pernah cerita sama gue?” tanyaku lagi sambil menatap tajam kearahnya.

“iya, jadi dia itu.. hmm temen deket gue di kantor.” Balasnya.

“jadi temen deket harus banget ya ada foto-fotonya di hape lo? harus banget lo foto bareng deketan gitu sama dia?”

“yaa emang salah ya foto bareng doang? Gue juga gak cuma berdua doang kok sama dia. Ada temen-temen yang lain juga.” Jawabnya meyakinkanku.

“ya tapi lo harusnya ngertiin perasaan gue dong, Di. Lo aja gak pernah cerita apa-apa soal perempuan ini sama gue.” Balasku sambil menahan tangis.

“iya sorry Dhia. Gue gak maksud nyembunyiin kok. Maafin gue yaa.” Jawabnya sambil memohon padaku.

“gue mau pulang sekarang.” Balasku singkat.

Saat itu, dia mengantarku pulang. Tadinya dia masih menahanku agar aku tetap disana. Namun, hatiku sangat sakit hari itu. Aku tidak kuat jika harus berlama-lama lagi dengannya. Sesampainya aku dirumah…..

“Dhia, dengerin gue dulu sebentar please.” Mohonnya padaku.

“assalamu’alaikum.” Jawabku.

Aku langsung masuk kedalam rumah tanpa menghiraukannya.

Aku langsung masuk ke kamarku dan menangis sejadinya. Jika kuingat hari ini, semuanya berubah. Rasa senang itu seketika menghilang karena wanita itu. Entah mengapa dalam foto itu terlihat berbeda. Ferdy terlihat sangat dekat dengan wanita itu, di dalam foto itu pun wanita itu terlihat sedang bersandar dengan Ferdy. Entah apa yang ada pikirannya, hingga ia bisa setega itu menyakiti perasaanku. Perasaan yang sudah kujaga dengan baik, namun dihancurkan begitu saja. Saat itu, aku merasakan sakit yang begitu dalam. Selama ini aku telah bersabar dengan semua sikapnya, dengan semua ocehannya, dan apapun itu. Hanya karena hal itu, baru kusadari bahwa ia sudah tidak lagi memperdulikanku, tidak lagi memperjuangkanku, tidak lagi lembut padaku. Aku sakit. Aku sudah terlalu sakit, aku menahan semua kesedihanku selama ini. Namun tak pernah ia hiraukan lagi. Dan semenjak hari itu kuputuskan pada hari berikutnya, aku menyudahi semuanya. Ya, 1 tahun 5 bulan 515 hari telah kulepas. Kuhilangkan dari pikiranku.  Aku move on.

 

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

            *keesokan harinya*

“ hai dhia, are you ok?” tanya sahabatku.

“yes, I’m ok. Unfortunately, I’m better than before.” Jawabku dengan senyum ceria.

“are you sure, dear?” tanyanya lagi.

“yes.. why I should crying someone who don’t care about me? Hahaha” jawabku dengan tenang.

“oh Dhia, I’m so proud of you. Kamu itu wanita yang kuat ya, tegar, kamu juga baik, cantik, pintar. Aku yakin, diluar sana pasti banyak banget pria yang mau jadi pasanganmu, Dhia.” Balasnya sambil memegang bahuku.

“hehe, kamu bisa aja Zi. Yaudah lah ya, sekarang mah aku fokus aja dulu sama apa yang aku jalanin. Fokus buat kejar cita-cita aku. Kamu juga ya, fokus sama apa yang sekarang kamu jalanin.” Jawabku sambil tersenyum padanya.

“siap deh bu guru hehehe.” Balasnya sambil menirukan gaya hormat.

 

Setelah hari itu, hari dimana Dhia dan Ferdy berpisah, kami tak lagi bertegur sapa meskipun kami masih sama-sama menyimpan kontak sosmed dan nomor handphone. Memang terkadang aku merindukannya. Rindu akan kenangan yang sudah kami lewati. Namun semua itu sudah takdir Allah bahwa kami belum diizinkan untuk bersama. Ya, Dhia dan Ferdy, sahabat hidup yang tak bisa bersama. Tetapi aku tahu bahwa Allah menyayangi kami sehingga ia tak membiarkan kami terus terjerumus ke hal-hal yang dilarang agama. Semenjak perpisahan itu, aku sadar. Banyak pelajaran berharga yang dapat ku ambil. Perpisahan itu membuatku semakin kuat, membuatku menjadi seorang wanita yang tak mudah termakan oleh rayuan nafsu para lelaki. Dan satu hal yang penting adalah perpisahan itu bisa membuatku semakin mendekatkan diri kepada Allah. Aku tak merasa kehilangan dia karena aku tahu bahwa pada hakikatnya kita memang tidak memiliki apa-apa di dunia ini. Semua ini hanya titipan Allah. Untuk itu, aku ingin beristiqomah, aku ingin menjadi wanita sholihah untuk ikhwan ku kelak. Semoga Allah memberikan seorang ikhwan yang terbaik untukku.

 

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Tidak ada komentar:

Posting Komentar