Prolog
Hai, namaku Dhia. Aku adalah
perempuan yang ceria, suka menulis, memasak, membaca, dan belajar. Saat ini,
aku sedang bekerja sebagai seorang guru di sekolah formal, juga guru bimbel dan
kursus. Aku sangat mencintai profesiku. Sehingga sampai saat ini, aku belum
sempat memikirkan untuk menjalin hubungan dengan seseorang. Jika kuingat masa
lalu, ada seorang lelaki yang membuat hidupku berwarna, lelaki yang memintaku
untuk menjadi sahabat hidupnya. Namun kita tidak ditakdirkan bersama saat itu.
Tetapi aku tidak bersedih, karena aku yakin dan aku tahu jika tiba saatnya
nanti akan ada seseorang yang datang kepada orang tuaku tanpa aku memintanya.
Dan dia adalah ikhwan pilihan Allah untukku.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mei 2014, hari ini adalah
hari pertamaku bekerja. Ya, walaupun sudah bekerja usiaku baru 17 tahun. Aku
baru saja lulus dari sekolah menengah atas. Sebagai seorang anak yang baru saja
lulus sekolah, pasti memiliki keinginan untuk kuliah. Begitu halnya denganku.
Namun, sebelum melanjutkan ke perguruan tinggi, aku memutuskan untuk bekerja di
salah satu tempat kursus sebagai guru bahasa inggris. Tetapi, Allah berkata
lain, ketika pengumuman perguruan tinggi negeri, tak satupun jalur yang
menerimaku untuk bisa berkuliah di universitas yang aku inginkan. Maka dari
itu, disitulah awal mula aku terjun ke dunia kerja. Ternyata, dunia kerja pun
tak seindah yang kubayangkan. Banyak sekali rintangan yang aku hadapi. Masalah
teman, dan bos ku pun sudah biasa aku hadapi. Yang terpenting ialah tetap
jalani dengan sepenuh hati dengan apa yang sudah aku pilih.
Dalam perjalanan ini, aku
tidak sendiri. Aku mempunyai seorang teman lelaki, namanya Ferdy. Kami satu
angkatan, namun kami bersekolah di tempat yang berbeda. Meski begitu, kami suka
kirim-kirim message melalui bbm atau sosmed yang lain. Hingga akhirnya kami
menjadi teman yang dekat.
Sebulan telah berlalu, namun
Ferdy belum juga mendapatkan pekerjaan. Ia telah mengikuti program magang kerja
ke luar negeri, namun Allah belum mengizinkannya. Ia juga telah mengirimkan
lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan. Hingga saat itu, saat bulan ramadhan
tiba, ia memberitahuku bahwa ia diterima di salah satu perusahaan. Alhamdulillah,
sebagai seorang teman aku ikut senang mendengarnya. Ia memberitahu bahwa ia
akan mulai bekerja pada bulan Agustus.
Lalu sampailah waktu pada
malam takbiran, ia mengajakku untuk pergi. dan dimalam itu, ia menyatakan
sesuatu yang tak kuduga sebelumnya. Sesuatu yang selama ini pun aku rasa beda.
“Dhia, gue mau ngomong sama lu….” Katanya.
“yaelah Di, lo kaya baru kenal gue aja sih. Mau ngomong apa?
Ngomong aja lagi.” sambungku.
“hmm gini, kita kan udah lumayan lama kenal ya.. udah deket
juga.. gue mau kita ini lebih dari sekedar sahabat… gue mau lo jadi sahabat
hidup gue….”
*DEG* seketika hatiku
berdegup kencang tak karuan. Apa yang Ferdy bilang tidak terpikirkan olehku
sebelumnya. Lantas aku harus jawab apaa? Apa aku terima saja dia? Selama ini juga
kita memang berteman baik.. tapi….
“hmm gue bingung nih mau jawab apa…” kataku.
“yaudah, lo jawab aja. Gue terima kok apapun jawaban lo.”
Balasnya.
Aku semakin bingung dengan
keadaan seperti ini. Namun kuputuskan…..
“eng… lo emang bener sayang sama gue? Lo yakin mau jadiin
gue…..”
“iyaa Dhia. Ngapain gue bohong, kalo gue bohong kan nanti hidung
gue jadi panjang.”
“yeee, itu hidung lo panjang. Berarti lo bohong ye kan hahaha.”
“oh iyaya. Ehh ini mah mancung bukan panjang. Ah dasar peseeek.”
geramnya sambil menekan hidungku.
“ah sakit Di. Rese lo maah..” kataku sambil merengek.
“iyaiya sorry..” katanya sambil mengusap hidungku. “jadi, gimana
jawabannya?” sambungnya lagi.
“hmm, okedeh. Gue….. mau.” Kataku dengan pelan.
“mau apa nih?” tanyanya.
“mau muntah. Hahahahaaa” ledekku sambil pergi menjauh dari
hadapannya.
“heyy dasar peseeeek.” Teriaknya sambil mengejarku.
Entah mengapa pada malam
itu, aku merasa sangat senang. Aku bahagia sekali, padahal kami pun tidak baru
sekali bertemu. Namun tetap saja berbeda. Ya, malam itu aku menerimanya sebagai
pasanganku.
Hari-hari pun terus berlalu.
Hari demi hari, bulan demi bulan pun terlewati. Kami menjalaninya bersama-sama
sebagai sepasang kekasih. Kami pun berbeda dengan pasangan yang lain, kami
menjalani hubungan long distance relationship atau biasa disebut ldr. Jadi,
kami hanya bertemu satu kali dalam sebulan atau bahkan dua bulan. Ya karena
kami berdua sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing. Selama beberapa bulan
ini kami baik-baik saja. Hingga pada saat itu…..
“Dhia, maaf ya gue ga sempet ngabarin lo. Gue tadi pulang kerja
langsung main futsal terus nongkrong sama temen-temen gue.” Katanya dalam pesan
bbm.
“ohh, iya gpp.” Balasku singkat.
“lo kenapa sih? Marah sama gue?” balasnya.
“gak gue gapapa.”
Sejak saat itulah kami
seringkali bertengkar. Ya, bertengkar dalam hal-hal yang sepele. Karena
semenjak ia bekerja beberapa bulan ini, ia sangat sibuk. Ia juga sibuk dengan
teman-temannya. Hingga ia lupa denganku. Saat itu, saat hubungan kami berjalan
hingga 11 bulan. Kami bertengkar hebat, hingga aku mengeluarkan kata pisah,
yang sebelumnya tak pernah ada salah satu diantara kami yang menyebutnya.
“hallo, assalamu’alaikum Dhia.. Dhia, maafin gue ya. Gue emang
salah. Gue tau gue jarang ngabarin lo. Tapi gue sayang lo, Dhia. Maafin gue….”
Katanya.
“wa’alaikumsalam. Lo ngapain telpon gue? Emang gue siapa lo?”
jawabku.
“Dhia, maafin gue. Gue tau lo marah, tapi please jangan diemin
gue kaya gini.”
“lo nyadar gak? lo tuh akhir-akhir ini terlalu sibuk sama dunia
lo sendiri. Lo tuh jadi kaya gak nganggep gue. Gue tuh kaya gak ada di hidup
lo. Kalo emang gue gak penting, yaudah kita udahan aja.” Balasku.
“please, Dhia.. maafin gue. Gue sayang sama lo. gue gak mau
udahan. Gue mau kita tetep lanjutin hubungan ini. Kasih gue kesempatan lagi ya
buat memperbaiki diri. Please gue mohooon….” Balasnya sambil memohon padaku.
Sambil menarik nafas aku menjawabnya, “oke. Gue kasih lo
kesempatan. Tapi kalo lo gak ubah sifat lo, maaf gue gak bisa nerimanya lagi.”
“oke Dhia, gue janji gue bakal perbaiki sifat gue ini. Makasih
yaa, Dhia. Gue sayang lo.” sambungnya dengan semangat.
Sejak hari itu, kami masih
tetap menjalani hubungan kami. Kami memang tak pernah berdebat atau bertengkar
karena perihal orang ketiga. Selalu saja, kami bertengkar hanya karena ia
sangat sibuk dengan dunianya sendiri. Waktu itu hubungan kami telah menginjak
tahun pertama. Ya, satu tahun bukanlah waktu yang singkat. Dan juga bukan pula
waktu yang mudah untuk kami lewati. Tetapi kami masih menjalaninya
bersama-sama. Dan pada hari itu, hari satu tahun hubungan kami….
*tok *tok *tok… *tok *tok
*tok….
Aku membuka pintu rumahku.
Daan…..
“assalamu’alaikum peri cantikku. How are you today?” sapanya
sambil tersenyum lebar dan menyodorkan bouquet bunga ke wajahku.
“wa’alaikumsalam. Ihhhh apaansih ini” jawabku sambil
menyingkirkan bouquet bunga yang berada di wajahku. “I’m not fine, because
you’re in front of me now! Hahahaa” sambungku.
“ihh kok gitu sih. Yaudah deh aku pulang ajaa…” Balasnya sambil
pasang muka sedih dan berbalik arah kearah pintu pagar.
“yaelah bro, baper banget sih lo hahaha.” Ledekku sambil
menariknya kembali kearahku. “gue bercanda lagi, maaf yaaaaa..” sambungku
dengan memasang muka manja.
“isssh siapa yang baper huuu dasar peseeek.” Katanya sambil
meledekku dan menekan hidungku.
“ih sakiiit. Rese banget sih.” Kataku sambil mengelus hidungku
yang merah karena ditekannya. “oh ya ada angin apa lo hari ini kerumah gue?”
sambungku.
“ah elah lo, pesek gendut. Guess what, hari ini ada apa hayo?”
“hmmm…. Hari ini ada lo dirumah gue.”
“lo nyebelin banget sih elah. Gue tendang juga nih.” Katanya
kesal.
“hahahaa, sensi amat lo bro. lagi pms?” kataku sambil
menjulurkan lidah.
“wahaha somplak lo ah. Serius nih gue. Yaudah dah gue bilang
aja. Selamat tanggal 7 yang ke 12 yaa peri cantik gue yang pesek yang gendut
yang nyebelin. Gue sayang lo.” katanya sambil tersenyum kearahku dan memberikan
bouquet bunga juga kado kecil.
Dengan mata yang berbinar aku pun menjawabnya sambil menerima
pemberian dia, “ah gilak, lo so sweet juga ya Di. Hahaa, makasih Ferdy ku yang
super nyebelin. Gue juga sayang lo.”
Hari itu kami habiskan
sehari bersama. Pergi ke tempat rekreasi yang dekat dengan rumahku. Kami
bersenang-senang disana, seakan kami tidak pernah mengalami pertengkaran.
Hari menjelang sore, dan
waktunya kami harus pulang. Setibanya aku dirumah…
“makasih ya, Di. Hari ini gue seneng banget.” Kataku sambil
tersenyum kearahnya.
“sama-sama, Dhia. Gue juga seneng kok. Semoga kita gak perang
dunia lagi yaa.” Balasnya sambil meledekku.
“hahaha bisa aje lo kang urut.” Balasku meledeknya kembali.
“yee dasar kacamata kang urutnya.” Jawabnya sambil menjulurkan
lidahnya kearahku.
“rese lo haha.. udah gih sana lo pulang, bentar lagi maghrib
loh.”
“oh iya, oke deh. Gue balik dulu ya. Jangan kangen lo sama gue
hahaha.” Katanya sambil menjitak kepalaku.
“isssh sakit elah. Pede banget lo jelek hahaha.”
“jelek juga tetep sayang kan lo sama gue. Haha yaudah gue pulang
ya, assalamu’alaikum.” Pamitnya kepadaku sambil melambaikan tangannya.
“oke hati-hati yaa. Wa’alaikumsalam.” Jawabku lalu masuk ke
dalam rumah.
*5
bulan kemudian*
*tok *tok *tok… *tok *tok
*tok….
Aku membukakan pintu,
seperti biasa yang datang adalah Ferdy.
“assalamu’alaikum pesek. Sibuk gak? Keluar yuk cari angin.”
Ajaknya.
“wa’alaikumsalam. Ih ngapain angin dicari? Masuk angin lo
pulang-pulang.” Jawabku sambil meledeknya.
“hahaha bisa aje kang cimol. Bercanda gue elah.”
“apaansih cimolnya. Haha gue juga bercanda jelek. Yaudah yuk,
bentar ya gue ambil tas dulu.”
“oke, gue tunggu di depan ya.”
“sip.”
Hari ini kita pergi ke
pantai. Cuaca sedang tidak terlalu panas hari ini. Dan suasana di pantai ini
cukup menenangkanku.
“gilak anginnya kenceng banget disini, pulang-pulang gue masuk
angin beneran ini mah..” kataku sambil memegang lengan-lenganku.
“yah, salah dong gue ngajak lo kesini..” katanya merasa bersalah
padaku. “yaudah nih pake jaket gue biar lo gak masuk angin.” Sambungnya.
“ah elo baperan banget sih haha gapapa kok gue.” Balasku sambil
menyerahkan jaketnya kembali.
“enggak, udah gapapa lo yang pake aja. Gue mah strong.” Katanya
sambil meledekku dan memakaikan jaketnya ke tubuhku.
“haha strong apaan lo. sepik ae duluuu.” Balasku meledeknya
kembali.
Hari itu sangat
menyenangkan. Seperti biasa kita memang selalu bercanda bersama. Tetapi pada
hari itu…
“Di, gue pinjem hape lo dong..” pintaku.
“buat apa deh?” tanyanya.
“ihhh pinjem ajaa. Liat doang masa gak boleh.” Rengekku.
“yaudah iya nih..” balasnya sambil memberikan handphone nya
padaku.
Lalu pada saat aku membuka
galeri fotonya…
“Di, ini foto perempuan banyak. Foto siapa?” tanyaku.
“eh itu, itu temen deket gue.” Jawabnya dengan sedikit
terbata-bata.
“temen deket? Lo gak pernah cerita sama gue?” tanyaku lagi
sambil menatap tajam kearahnya.
“iya, jadi dia itu.. hmm temen deket gue di kantor.” Balasnya.
“jadi temen deket harus banget ya ada foto-fotonya di hape lo?
harus banget lo foto bareng deketan gitu sama dia?”
“yaa emang salah ya foto bareng doang? Gue juga gak cuma berdua
doang kok sama dia. Ada temen-temen yang lain juga.” Jawabnya meyakinkanku.
“ya tapi lo harusnya ngertiin perasaan gue dong, Di. Lo aja gak
pernah cerita apa-apa soal perempuan ini sama gue.” Balasku sambil menahan
tangis.
“iya sorry Dhia. Gue gak maksud nyembunyiin kok. Maafin gue
yaa.” Jawabnya sambil memohon padaku.
“gue mau pulang sekarang.” Balasku singkat.
Saat itu, dia mengantarku
pulang. Tadinya dia masih menahanku agar aku tetap disana. Namun, hatiku sangat
sakit hari itu. Aku tidak kuat jika harus berlama-lama lagi dengannya.
Sesampainya aku dirumah…..
“Dhia, dengerin gue dulu sebentar please.” Mohonnya padaku.
“assalamu’alaikum.” Jawabku.
Aku langsung masuk kedalam
rumah tanpa menghiraukannya.
Aku langsung masuk ke kamarku
dan menangis sejadinya. Jika kuingat hari ini, semuanya berubah. Rasa senang
itu seketika menghilang karena wanita itu. Entah mengapa dalam foto itu
terlihat berbeda. Ferdy terlihat sangat dekat dengan wanita itu, di dalam foto
itu pun wanita itu terlihat sedang bersandar dengan Ferdy. Entah apa yang ada
pikirannya, hingga ia bisa setega itu menyakiti perasaanku. Perasaan yang sudah
kujaga dengan baik, namun dihancurkan begitu saja. Saat itu, aku merasakan
sakit yang begitu dalam. Selama ini aku telah bersabar dengan semua sikapnya,
dengan semua ocehannya, dan apapun itu. Hanya karena hal itu, baru kusadari
bahwa ia sudah tidak lagi memperdulikanku, tidak lagi memperjuangkanku, tidak
lagi lembut padaku. Aku sakit. Aku sudah terlalu sakit, aku menahan semua
kesedihanku selama ini. Namun tak pernah ia hiraukan lagi. Dan semenjak hari
itu kuputuskan pada hari berikutnya, aku menyudahi semuanya. Ya, 1 tahun 5
bulan 515 hari telah kulepas. Kuhilangkan dari pikiranku. Aku move on.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*keesokan harinya*
“ hai dhia, are you ok?” tanya sahabatku.
“yes, I’m ok. Unfortunately, I’m better than before.” Jawabku
dengan senyum ceria.
“are you sure, dear?” tanyanya lagi.
“yes.. why I should crying someone who don’t care about me?
Hahaha” jawabku dengan tenang.
“oh Dhia, I’m so proud of you. Kamu itu wanita yang kuat ya,
tegar, kamu juga baik, cantik, pintar. Aku yakin, diluar sana pasti banyak
banget pria yang mau jadi pasanganmu, Dhia.” Balasnya sambil memegang bahuku.
“hehe, kamu bisa aja Zi. Yaudah lah ya, sekarang mah aku fokus
aja dulu sama apa yang aku jalanin. Fokus buat kejar cita-cita aku. Kamu juga
ya, fokus sama apa yang sekarang kamu jalanin.” Jawabku sambil tersenyum padanya.
“siap deh bu guru hehehe.” Balasnya sambil menirukan gaya
hormat.
Setelah hari itu, hari
dimana Dhia dan Ferdy berpisah, kami tak lagi bertegur sapa meskipun kami masih
sama-sama menyimpan kontak sosmed dan nomor handphone. Memang terkadang aku
merindukannya. Rindu akan kenangan yang sudah kami lewati. Namun semua itu
sudah takdir Allah bahwa kami belum diizinkan untuk bersama. Ya, Dhia dan
Ferdy, sahabat hidup yang tak bisa bersama. Tetapi aku tahu bahwa Allah
menyayangi kami sehingga ia tak membiarkan kami terus terjerumus ke hal-hal
yang dilarang agama. Semenjak perpisahan itu, aku sadar. Banyak pelajaran
berharga yang dapat ku ambil. Perpisahan itu membuatku semakin kuat, membuatku
menjadi seorang wanita yang tak mudah termakan oleh rayuan nafsu para lelaki.
Dan satu hal yang penting adalah perpisahan itu bisa membuatku semakin
mendekatkan diri kepada Allah. Aku tak merasa kehilangan dia karena aku tahu
bahwa pada hakikatnya kita memang tidak memiliki apa-apa di dunia ini. Semua
ini hanya titipan Allah. Untuk itu, aku ingin beristiqomah, aku ingin menjadi
wanita sholihah untuk ikhwan ku kelak. Semoga Allah memberikan seorang ikhwan
yang terbaik untukku.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:
Posting Komentar